140 PROSIDING SEMINAR NASIONAL ”Pembelajaran Bahasa untuk Meningkatkan Kualitas Manusia Indonesia yang Berkarakter dalam Era Mondial” MEDIA PEMBELAJARAN DIY: MEMBUAT FLASH CARD DAN TEKA-TEKI SILANG MANDIRI Eric Kunto Aribowo PBSD, FKIP, Universitas Widya Dharma Klaten erickunto@unwidha.ac.id Abstract Today, most daily newspapers include a crossword puzzle as well as many magazines. It didn’t take long for teachers to see the educational possibilities of these word puzzles. And when photocopying became commonplace, so did opportunities for educators to create customizable puzzles based on the curriculum they were covering. The advent of the internet age even gave educators access to any number of online programs that will create flash cards geared to their student’s particular subject. There is no question that crossword puzzles and flash cards have been used in education for many years. This article provides instructions on how to make personal crossword and flash cards and its learning models. Keywords: flash card, crossword, learning tool Abstraksi Saat ini, sebagian besar surat kabar harian serta banyak majalah memuat teka-teki silang. Tidak butuh waktu lama bagi guru untuk melihat kemungkinan teka-teki kata tersebut diterapkan dalam bidang pendidikan. Ketika mesin fotokopi menjadi suatu hal yang lazim, begitu pula peluang bagi pendidik untuk membuat teka-teki yang disesuaikan dengan kurikulum mereka hadapi. Munculnya era internet juga memberikan pendidik pada akses ke sejumlah program daring (online) yang mampu membuat flash card yang diarahkan untuk mata pelajaran tertentu kepada siswa mereka. Tidak perlu dipungkiri bahwa teka-teki silang dan flash card telah digunakan dalam pendidikan selama bertahun-tahun. Tulisan ini memberikan petunjuk bagaimana cara membuat media pembelajaran menggunakan teka-teki silang dan flash card personal berikut model pembelajarannya. Kata kunci: flash card, teka-teki silang, media pembelajaran 1. Pendahuluan Di dunia yang cepat berubah dan penuh dengan informasi sebagaimana dunia kita ini, setiap individu dari kita –mulai dari siswa sekolah hingga mahasiswa di perguruan tinggi– perlu mengetahui bagaimana belajar dengan baik. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa sebagian besar dari kita tidak menggunakan teknik pembelajaran yang telah terbukti menurut ilmu pengetahuan sebagai cara yang paling efektif. Laksmi, dkk. (2014) menyebutkan bahwa “kecenderungan pembelajaran saat ini masih berpusat pada guru dengan bercerita atau berceramah.” Hal ini berimbas pada kondisi siswa yang kurang terlihat aktif dalam proses pembelajaran. Akibatnya, tingkat pemahaman siswa terhadap materi rendah dan akhirnya berdampak pada hasil belajar yang kurang optimal. Sejalan dengan pendapat itu, Apriani menyatakan bahwa dalam proses KBM acap kali didapati berbagai permasalahan seperti: “siswa kurang aktif, minat baca siswa yang tergolong rendah, kesulitan dalam menyerap bahasa asing, dan program tuntas yang diharapkan oleh guru masih belum tercapai.”