BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak warisan kebudayaan dan kearifan lokal dalam pembentukan karakter bangsa sedang bertahan di tengah modernisasi. Modernitas mengambil celah-celah yang ada dan masuk ke tiap-tiap lapisan masyarakat sebagai pengendali. Khususnya bagi masyarakat lokal yang lebih rawan dimasuki budaya-budaya baru, sehingga lebih mudah pula meninggalkan budaya-budaya lama yang dianggap telah usang dan ketinggalan zaman. Budaya baru yang dianggap lebih instan serta dianggap lebih maju justru menempati tempat di hati masyarakat. Salah satu tradisi yang selama ini diwariskan secara turun-temurun namun kini mulai ditinggalkan, padahal sesungguhnya memiliki nilai-nilai yang tinggi (adiluhung) dan hakiki, yaitu tradisi lisan. Tradisi lisan yang mengandung nilai-nilai keluhuran dan nasihat-nasihat untuk anak serta berperan dalam pembentukan karakter anak, lazimnya disampaikan melalui tembang dolanan. Namun sayangnya, minimnya pengetahuan anak-anak sebagai generasi muda tentang tembang dolanan membuat keberadaan tembang dolanan semakin mengkhawatirkan. Tembang dolanan menjadi kian tenggelam di tengah hiruk-pikuk budaya luar yang justru sedang memapankan posisinya di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Menurut Poernomosidi (2006: 1), kebiasaan latah orang Indonesia yang suka meninggalkan budayanya sendiri dan lebih tertarik mengikuti arus budaya global secara primordial tidak hanya menimpa pada generasi muda saja, namun juga seluruh generasi bangsa. Melunturnya kebanggaan masyarakat terhadap budaya lokal mengakibatkan terputusnya estafet pewarisan nilai-nilai luhur ke generasi penerus. Oleh sebab itu secara nasional karakter bangsa ini sedang dalam pertaruhan yang membawa ke dalam kondisi kritis. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Yogi Ardiani di tahun 2012, seorang mahasiswa jurusan PG PAUD Universitas Sebelas Maret, mengungkapkan fakta bahwa keunikan dan kelebihan yang terdapat pada tembang 1