Hlm 1 dr 6 SEMINAR DAN CALL FOR PAPERS Perpustakaan Universitas Surabaya 20-21 Maret 2018. DISRUPTIVE TECHNOLOGY : Opportunities and Challenges for Libraries dan Librarians MENJADI PUSTAKAWAN PRODUKTIF DI ERA DISRUPSI Dicki Agus Nugroho 1 Pustakawan Universitas Tidar *dicki@untidar.ac.id ABSTRACT Self-satisfied too early is often so the defendant. Unfortunately this happens in everyday librarians and the trend is still strong. If such a thing is a reality, the librarian will become extinct. Presumably, the issue of extinct’s librarians is still far away. The librarian's profession will not be eroded, if it becomes a productive librarian in the era of disruption. This study using qualitative descriptive method. Collecting data by open questionnaire. This study explains various practices of productive librarian in the era of disruption. The informant are members group of Pustakawan-Blogger Indonesia in the application of WhatsApp. Selection of informants using purposive sampling techniques, with the following criteria: (1) librarian's profession, (2) willing to be an informant, and (3) know well about the era of disruption. Examples of productive librarian practices include: Examples of productive librarian practice include: writing, publishing, reading, creative activities, being flexible on bureaucracy, know well user character, learning programming languages in library technology and community assistance. ABSTRAK Berpuas diri terlalu dini memang kerap jadi si terdakwa. Celakanya kian mengakar di keseharian pustakawan dan kecenderungan itu masih menguat. Jika hal demikian adalah kenyataan, pustakawan bakal punah bisa saja terjadi. Kiranya, isu punahnya pustakawan masih jauh panggang dari api. Profesi pustakawan tidak akan tergerus, jika dan hanya jika menjadi pustakawan produktif di era disrupsi ini. Kajian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner terbuka ini menjelaskan berbagai contoh praktik pustakawan produktif di era disrupsi. Informan adalah anggota grup Pustakawan-Blogger Indonesia di aplikasi Whatssapp. Pemilihan informan menggunakan teknik sampel bertujuan, dengan kriteria sebagai berikut (1) berprofesi pustakawan, (2) bersedia menjadi informan, dan (3) memahami era disrupsi. Contoh praktik pustakawan produktif antara lain: menulis, menggeluti penerbitan, membaca, kreatif mengadakan kegiatan, bersikap fleksibel pada birokrasi (lobbying), memahami karakteristik pemustaka, belajar tentang IT atau bahasa pemrograman (coding), dan melakukan pendampingan masyarakat. Keywords: productive librarian, era of disruption, creative librarian PENDAHULUAN Pustakawan dalam keadaan krisis. Di abad internet, pemustaka membutuhkan kecepatan mencari informasi. Kecepatan sebagai berhala baru bagi mereka yang ingin serba cepat, tanpa peduli bahwa mereka bisa saja tersesat. Hadirnya teknologi digital, di luar kebaikan yang ditawarkan, ternyata juga disinyalir menenggelamkan peran perpustakaan. Informasi mengalir begitu deras, pustakawan dituntut bekerja lebih cerdas. Adalah Ida Fajar Priyanto yang mengenalkan istilah Era Normal Baru melalui opini beliau di media arus utama baru-baru ini. Tidak dapat disangkal, dunia berubah akibat teknologi digital (Priyanto, 2018). Jika bisa diibaratkan pasar adalah perpustakaan, dan penjual adalah pustakawan, sedangkan pembeli adalah pemustaka, maka dapat dikatakan bahwa perpustakaan tidak selamanya efisien disebabkan informasi yang tidak merata (Basri, 2017). Gampangnya: pustakawan merasa lebih tahu mengenai informasi di perpustakaan daripada pemustaka. Akibatnya pustakawan mengambil manfaat lebih untuk dirinya, yang bisa merugikan pemustaka. Dan, karena pemustaka khawatir dirugikan, maka ia tidak lagi menghiraukan pustakawan. Akibatnya, koleksi yang tersedia di perpustakaan menjadi informasi kelas dua atau bahkan pemustaka tidak pernah datang lagi ke perpustakaan. Kekhawatiran tersebut terjawab oleh hadirnya teknologi digital (bagi pemustaka). Begitu teknologi digital berdatangan ternyata memperluas banyak pilihan baru. Pemustaka yang kian tahun bakal didominasi generasi langgas ini kerap lebih mengetahui bagaimana mencari informasi lebih cepat dibanding berkonsultasi kepada pustakawan. Pemustaka merasa cukup mencari informasi melalui mesin pencari google yang dianggap sebagai pustakawan referen bagi mereka. Mengingatkan kita terhadap isu