TEMU ILMIAH IPLBI 2016 Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2016 | D 001 Peran Citra Visual terhadap Daya Tarik Kawasan Wisata Malioboro Agus S. Sadana Jurusan Arsitektur, Universitas Pancasila Abstrak Malioboro adalah koridor kota yang sekaligus menjadi kawasan wisata. Citra kawasan wisata dapat terbentuk oleh aspek-aspek eksistensi dan karakteristik lingkungan, ekspresi budaya, dan artefak yang terlihat oleh pengunjung. Secara visual, aspek-aspek tersebut akan dipersepsikan dan mempengaruhi gambaran mental yang dirasakan oleh pengamat. Diketahuinya kinerja ketiga aspek tersebut dapat dimanfaatkan dalam rangka mengembangkan koridor malioboro sebagai kawasan wisata. Selanjutnya gambaran mental tersebut akan mempengaruhi citra yang dihasilkan oleh koridor malioboro sebagai kawasan wisata. Pengumpulan data menggunakan metode diferensial semantik dan membandingkan prioritas objek yang lebih disukai dipergunakan untuk menggali pendapat responden. Hasilnya menunjukkan bahwa aspek ekspresi budaya dan artefak yang cenderung mengarah kepada aktivitas, kebidupan, dan kekayaan budaya merupakan aspek yang memiliki peran lebih utama dalam pembentukan citra kawasan wisata. Adapun karakteristik lingkungan lebih kecil perannya. Selain itu, dapat diketahui bahwa wisatawan kurang menyukai objek yang pada dengan kerumunan manusia. Kata-kunci : koridor, kota, persepsi, visual, wisata Citra Tempat Terkait dengan citra kota dan tempat, Purwanto (2014) menjelaskan bahwa kota harus mem- punyai citra yang baik, karena kota dengan citra yang baik maka akan mudah dibayangkan dan meninggalkan kesan bagi siapapun. Kota atau tempat memiliki citra yang baik dapat terjadi dari adanya kenangan yang cukup kuat dalam diri pengamat karena kota tersebut berhasil menjadikan dirinya sebagai tempat mempro- duksi banyak kenangan bagi siapapun yang menikmatinya. Purwanto (dalam Pettricia, 2014) melanjutkan bahwa hubungan timbal balik manusia dengan lingkungan perkotaan meru- pakan proses dua arah yang saling terkait, didukung oleh ciri-sifat yang dapat memberikan citra lingkungan, maupun kejiwaan manusia. Citra Ruang Kota dan Daya Tarik Wisata Dalam kajian ruang kota, situasi visual pada suatu koridor merupakan pemandangan dilihat dan dipersepsikan oleh pengamat. Wujudnya dapat berupa tampak muka atau fasad, beserta aktivitas-aktivitas yang berada di sekitarnya. Situasi visual tersebut yang kemudian meng- hasilkan citra ruang kota. Pitana dan Gayatri (2005) menjelaskan bahwa setiap destinasi wisata memiliki citra (image) tertentu, berupa mental maps seseorang ter- hadap suatu destinasi yang mengandung keya- kinan, kessan, dan persepsi. Lebih lanjut, citra pada destinasi wisata terbentuk dari kombinasi antara berbagai faktor yang dapat dikelom- pokkan ke dalam dua kelompok faktor, yaitu (Pitana., dan Gayatri, 2005): (1) faktor pada destinasi tersebut, seperti: cuaca, pemandangan alam, keamanan, kesehatan dan sanitasi, ke- ramah-tamahan, dan lain-lain; dan (2) faktor informasi yang diterima dari berbagai sumber atau fantasi wisatawan sendiri. Pariwisata adalah salah satu bagian dari hospi- tality industry (industri keramah-tamahan). Citra