BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kekayaan alam di daerah Minahasa (Kabupaten Minahasa Induk, Utara, Selatan dan Tenggara) dan Sangihe, yakni minuman tradisional yang sudah membudaya sejak 2 abad silam, sadapan air nira dari mayang pohon aren (dalam bahasa Minahasa saguer) diolah dengan proses penyulingan sehingga saguer berubah menjadi sopi atau biasa disebut Cap Tikus (dinamai oleh para leluhur Minahasa dan Sangihe) yang digunakan oleh masyarakat untuk tradisi, adat, upacara, memanaskan tubuh, perayaan hari syukuran, penghiburan duka, pelengkap acara pertemuan sanak saudara, teman, dll. Cap Tikus sudah menjadi salah satu kebutuhan hidup di Minahasa dan kepulauan Sangihe. Produksi Cap Tikus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi para petani aren beserta keluarga. Adapun Metode pengolahan Cap Tikus secara tradisional (destilasi bambu) banyak digunakan karena sedikit biaya. Alat sederhana dan mudah ini membutuhkan waktu produksi yang lama. Selain butuh tenaga ekstra, dampak bagi kesehatan para petani Cap Tikus sangat beresiko karena menghirup asap dari tungku. Sedangkan metode pengolahan Cap Tikus secara modern (destilasi pipa logam) membutuhkan lebih banyak biaya karena penyulingan menggunakan pipa logam. Kelebihannya adalah waktu produksi lebih cepat, tidak mengeluarkan banyak tenaga, kualitas Cap Tikus lebih baik dan tidak 1