PENDEKATAN SUFISTIK DALAM MENAFSIRKAN AL-QURAN Badruzzaman M. Yunus (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung) ________________________________________ Abstrak Karya-karya tafsir Alqur’ân bercorak sufistik seperti halnya tasawuf sebagai disiplin ilmu, mendapat label plus-minus dari para pengkaji. Imam al-Thusiy mengomentari penafsiran sufi sebagai “Penafsiran seperti itu keliru (ءΎτ خ) dan dusta (ϥΎتϬب) kepada Allâh”. Imam al -Suyuthiy menyatakan bahwa pendapat para sufi dalam memaknai Alqur’ân tidak dianggap sebagai tafsir. Ibn Shalah dalam Fatâwa-nya, Ia mengutip apa yang dikatakan oleh Imam Abi Hasan al-Wahidi; siapa yang menganggap bahwa kitab al-Sulami itu kitab tafsir maka ia telah menjadi kafir. Demikian juga penolakan dari Imam al-Zarkasyiy, Imam al-Nasafi dan Imam al-Rafi’iy. Sementara itu, banyak ulama yang memandang bahwa tafsir sufistik memiliki faidah untuk mengurai sisi esoterik Alquran dengan asumsi bahwa Alqur’ân memiliki makna dzahir dan makna bathin. Jika demikian, maka tafsir sufistik memiliki kontribusi jelas pada pemaknaan dari aspek bathinnya dengan perangkat takwil atau isyarat-isyarat tertentu, sementara untuk makna dzâhir- nya sudah digarap oleh perangkat tafsir. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa tidak ada larangan seseorang menafsirkan Alqur’ân dengan penafsiran sufistik jika bermaksud untuk menampilkan kekayaan makna Alqur’ân hingga batas-batas pemaknaan dengan simbol atau isyarat-isyarat tertentu. Perdebatan tentang status tafsir sufistik antara kebolehan membaca, memahami dan mengamalkannya seperti yang representasikan oleh Imam al-Ghazali versus beberapa ulama yang menolak karya-karya tafsir sufistik, me-niscayakan untuk mendefinisikan tafsir sufistik dan me-meta-kan (mapping) tafsir sufistik dengan membuat kategori-kategori baik paradigma, karya-karya, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangannya. Teori tafsir sufistik merujuk pada karakteristik metodologi tafsir Alqur’ân yang terbagi kedalam tiga bagian bersar; referensi tafsir (mashadir); referensi tafsir informatif (matsur), nalar (ma’qul) dan intuitif/esoterik (isyariy), metode tafsir (manhaj); ijmaliy, tahliliy, muqaran dan mawdluiy dan yang terakhir adalah teori tentang pendekatan/corak tafsir. Penelitian ini menemukan bahwa secara paradigmatik, posisi tafsir sufi mengambil ruang esoterik dengan memakai perangkat takwil. Tafsir sufistik terbagi kepada dua kategori; isyariy; tafsir yang diperoleh dari isyarat- isyarat ghaib dan nadzariy; penafsiran dengan teori-teori tasawuf dan filsafat (theosophy, tasawuf-falsafi). Pendekatan tafsir sufi berupaya memaknai Alquran dengan menggunakan tasawuf sebagai ilmu bantu. Tafsir dengan corak sufistik memiliki kelebihan terutama pada penyingkapan makna esoterik, bathin Alquran, sementara kelemahannya adalah tidak ada tolok ukur validitas dan hanya dikonsumsi oleh komunitas terbatas. Kata Kunci: Sufiy, Isyariy, Nadzâriy, Pendekatan Tafsir, Corak Tafsir ____________________________________________ A. Pendahuluan Banyak penjelasan dan ulasan yang dinisbahkan kepada disiplin ilmu tasawuf; dari mulai penjelasan yang mengusung keniscayaan ilmu ini untuk dipelajari, mesti dikembangkan dan dipraktekkan dalam kehidupan keseharian. Dalam konteks ini, ilmu tasawuf memiliki kontribusi yang sangat besar dalam upaya memperbaiki akhlak (tasawuf akhlaqi), melatih hati dan menelusuri kehadiran Khaliq (thariqat), berupaya mengenali (ma’rifat) dan berupaya menghilangkan sekat-sekat antara dirinya dan 1 Asimain, al-Fikr al-Shufiy fi Dlau al-Quran wa al- Sunnah, Ibn Shalah, Fatawa Ibn Shalah: 232-233 sang Khaliq ,“menyatu”, “melebur” denganNya (haqiqat). Di sisi lain, ada yang menganggap tasawuf sebagai disiplin ilmu yang ambigu, tidak jelas, bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw., aktivitas kaum zindiq, tidak rasional, berlebihan, tidak dapat diukur dengan paradigma rasional-empirik dan seterusnya. Tradisi sufistik dianggap sebagai keyakinan yang disertai dengan praktek ibadah yang penuh dengan khurafat dan takhayul, termasuk upaya memaknai Alquran yang dilakukan oleh oleh orang-orang sufi atau tafsir yang bercorak sufi 1 .