1 Bab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penafsiran ayat-ayat ruh dengan pendekatan saintifik telah banyak dilakukan oleh para Ulama’ dan sarjana Muslim. Fakhr al-Ra>zi> misalnya, ia menafsirkan kata ruh sebagai penghidupan pada diri manusia, selain itu ruh juga berpengaruh terhadap kesadaran, dan rasa. Sebagai contoh, kebahagiaan dan kesedihan tidak akan bisa dirasakan oleh manusia apabila ruh tidak ada. Al-Ra>zi> membahas ruh pada QS al-Isra>’: 85 di dalam tafsirnya yang berjudul Mafa>ti>h} al-Ghayb sebanyak tujuh pembahasan. 1 Selain al-Ra>zi>, Muh} ammad ‘Abduh juga menafsirkan kata ruh sebagai jism lat}i>f, yaitu suatu yang bergerak dan yang menggerakkan. Ruh juga dapat membuat perubahan besar pada kehidupan. Menurutnya, para ulama’ dan sarjana muslim terdahulu belum ada yang peduli dengan pembahasan ilmiah seputar ruh, namun ia percaya bahwa akan terungkap suatu yang lebih dahsyat mengenai pembahasan ruh. 2 Penafsiran seperti ini tak lepas dari perdebatan di kalangan masyarakat akademis. Beberapa ulama’ seperti Sayyid Qut} b dalam kitabnya Fi> Z{ ila>l al-Qur‘a>n berpendapat bahwasaannya, ilmu pengetahuan itu mempunyai lapangan, dan ufuk (wilayah). Hal ini dapat dianalisa dan dideteksi oleh manusia namun, ruh bukanlah sesuatu yang dapat didiuiji coba dengan material. 3 Perdebatan mengenai pembahasan seputar ruh tidak hanya muncul pada zaman-zaman terdahulu oleh pemikir- pemikir Islam atau ulama’-ulama’ Sufi mutaqaddimi> n. Beberapa buku-buku yang beredar mengenai pembahasan ruh namun, 1 Fakhruddi>n al-Ra> zi> , Mafa>ti> h} al-Ghayb (Beirut: Da>r al-Kita>b, 2000), 37-40 2 Muh} ammad ‘Abduh, Tafsir al-Mana>r (Kairo: Da<r al-mana>r, 1947) 3 Sayyid Qut}b, Fi> Z} ila> l Al-Qur‘a> n jilid 11 (terj) As‘ad yasin dkk (Jakarta: Gema Insani, 2006), 133.