Teknik Konseling Biblioterapi: Menjadikan Buku sebagai Sarana Transformasi Diri Oktarizal Drianus Magister Sains Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta PENDAHULUAN Pepatah lama mengatakan “buku adalah jendela dunia”. Tidak salah kiranya pepatah ini. Ketika membaca buku, kita seperti diajak untuk menjelajahi dunia asing yang hidup pada imajinasi. Setiap kata, kalimat, bab dalam suatu buku perlahan- lahan membentuk sebuah ruang imagi dalam benak, yang oleh kita kemudian diinternalisasikan secara sadar ataupun tidak sadar. Buku mempunyai banyak wajah. Ia dipahami sejauh pengetahuan, pengalaman orang yang membacanya. Kata-kata mempunyai kekuatan pengubah. Tidaklah heran, jika Mark David Chapman memegang buku The Catcher in The Rye karya J.D. Salinger ketika menembakkan pistolnya ke arah seorang musisi legendaris, John Lennon. Buku bisa memperkuat motivasi orang menjadi teman para pembunuh. Sebaliknya, Animal Farm karya George Orwell membuat kita selalu insyaf bahwa sisi kebinatangan manusia selalu mengintai untuk menguasai diri kita di sepanjang perjalanan hidup. Para politisi menjadi selalu was-was dengan hasrat kekuasaan yang menindas. Begitu pula dengan Cala Ibi karya Nukila Akmal, ia menyajikan bahwa manusia selalu retak, tidak sempurna, terbelah. Kita memerlukan orang lain untuk menjadi lebih baik dan membenihkan kerendahan hati. Salah satu penyair dan penulis esai popular di Indonesia, Goenawan Muhamad ingin menjadi sastrawan ketika remaja dan masuk fakultas psikologi karena terprovokasi oleh buku H.B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya yang menyebutkan tiga bidang ilmu sebagai syarat minimal untuk menjadi sastrawan, dan tiga cabang ilmu itu diajarkan dalam satu fakultas, yaitu psikologi. Begitulah kira-kira sekelumit tafsiran atas pepatah “buku adalah jendela dunia”. Ada pelajaran, ibrah, hikmah dalam sebuah buku yang mempengaruhi sisi batin pembaca, memperkaya dan merubah perspektif. Buku menghubungkan pikiran dan batin dengan dunia yang kita tinggali. Orang menjadi sedih, bahagia, terharu, terbuka wawasannya, mendapat pencerahan dengan membaca buku. Akan tetapi, buku tetaplah buku jika tidak diiringi dengan aktivitas pembacaan. Pembacaan yang miskin akan terpeleset seperti pada para pembunuh di atas, makna menjadi sempit. Buku seolah-olah menjadi legitimasi sosial atas tindakannya. Sebaliknya, pembaca yang baik adalah pembaca yang mampu mengapropriasi ke arah perubahan yang baik bagi dirinya. Makna menjadi kaya. Oleh karenanya dalam lingkup konseling, buku menjadi salah satu media untuk meningkatkan psychological well-being. Teknik ini disebut dengan bibliotherapy. Makalah ini akan berkutat pada topik itu. “It’s so easy: read a book and your life becomes so much richer and more exciting – it’s very consoling,” begitu kata Sonya Tsakalakis, seorang bibliotherapist di The School of Life Melbourne (Digges, 2016) Sehingga, pertanyaan yang coba dijawab mencakup sejauh mana bibliotherapy ini relevan sebagai teknik konseling? Bagaimana bibliotherapy mempromosikan psychological well-being? Jikalau dirasa positif, bagaimana menerapkannya dalam lapisan lingkungan masyarakat? KEKUATAN NARATIF BUKU Jerome Bruner merupakan psikolog yang banyak memberikan landasan epistemologis melalui penggunaan narasi dalam psikologi. Bruner (1990) menegaskan bahwa cerita merupakan dasar dari proses penciptaan makna dan satu-satunya cara untuk menjelaskan waktu yang dihayati seseorang dalam hidupnya adalah dengan menggunakan bentuk naratif. Selanjutnya Bruner (2004) menuliskan: “Eventually the culturally shaped cognitive and linguistic processes that guide the self-telling of life narratives achieve the power to structure perceptual experience, to organize memory, to segment and purpose-build the very "events" of a life. In the end, we become the autobiographical narratives by which we "tell about" our lives”