1 Prakata Ong Hok Ham ‘Madiun dalam Kemelut Sejarah – Priayi dan Petani pada Abad ke-19’ Buku yang anda pegang di tangan adalah skripsi sejarawan Indonesia terkenal, Ong Hok Ham (1933-2006) (seterusnya Ong). Skripsi ini selesai ditulis pada awal 1975 waktu Ong meraih S3 (PhD) di Departemen Sejarah, Universitas Yale, di New Haven AS. Selama di Yale (1968-1975) Ong dibimbing oleh Profesor Harry J. Benda sampai wafatnya (September 1971); dan seterusnya oleh Profesor Bernhard Dahm, Profesor Tony Reid dan Dr Milton Osborne, serangkaian 'orang hebat' (greats) di bidang sejarah Asia Tenggara. Salah satu teman baik Ong di Yale pada 1968-69 adalah Profesor Heather Sutherland (Reeve dkk 2007:149-50), yang kelak akan menerbitkan penelitian mengenai keluarga priayi di Jawa abad ke-19 dalam dua artikel dan sebuah monograf yang amat penting (Sutherland 1973, 1974, 1979). Sepanjang hidup Ong, skripsi S3 yang ia selesai di Yale, dipakai sebagai sumber sejarah untuk menulis 360 artikel dalam jurnal dan majalah nasional seperti Kompas, Prisma dan Tempo. Dua dasawarsa antara pulangnya Ong dari Yale (1975) dan runtuhnya Orde Baru pada Mei 1998 adalah tahun-tahun yang paling produktif bagi pria keturunan keluarga Han Tik Ko. Pada periode in, Ong menjadi seorang public intellectual (budayawan umum) dan popular historian (sejarawan media massa) yang cukup terkenal di Indonesia. Jadi timbul pertanyaan: kalau skripsi Ong begitu penting sebagai sumber sejarah untuk tulisan Ong di media massa mengapa tidak dipublikasikan jauh lebih dini? Mengapa tidak langsung diterbitkan setelah Ong kembali dari AS dan memulai karir lagi sebagai dosen tetap di Departemen Sejarah FIB-UI (1968-1988)? Dukungan finansiil dan institusionil sudah ada: ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) di Singapura, yang telah didirikan pada 1968 oleh supervisor Ong yang meninggal muda itu, Harry J. Benda, telah menyediakan lowongan untuk Ong sebagai research fellow (peneliti muda tamu) pada tahun 1978-1979. Dan fellowship ini khusus ditujuhkan supaya Ong bisa menerbitkan skripsinya setebal 400 halaman itu. Kalau naskah sudah siap tentu penerbit universitas kelas dunia seperti National University of Singapore (NUS) Press atau