OPTIMALISASI PENENTUAN POSISI ENODE-B BERDASARKAN BTS EXISTING DI KOTA PADANG MENGGUNAKAN METODA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION Rahmatia Safitri 1 , Iwan Krisnadi (1) Jurusan Magister Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta, Indonesia Telp. 087877213438. E-mail : rs.rahmatia@gmail.com Abstrak Salah satu komponen pendukung jaringan Long Term Evolution (LTE) adalah Evolved Node B (ENodeB). ENodeB dapat dianalogikan sebagai Base Tranceiver Station (BTS) yang berperan sebagai perangkat pemancar dan penerima yang menghubungkan user equipment dan jaringan. Seiring meningkatnya jumlah pengguna layanan seluler, kebutuhan akan ENodeB semakin bertambah, hal ini menyebabkan banyaknya jumlah menara BTS. Mengingat peraturan Menteri Kominfo No.19/PER/M.KOMINFO/03/2009 mengenai pembangunan menara telekomunikasi sebagai infrastruktur pendukung dalam penyelenggara telekomunikasi harus memperhatikan efisiensi, keamanan lingkungan serta estetika lingkungan. Maka untuk meminimalisir pembangunan BTS baru, perlu dilakukan optimalisasi penentuan posisi E-NodeB. Penelitian ini dilakukan perencanaan jumlah eNodeB pada jaringan LTE berdasarkan jumlah penduduk dan luas daerah, kemudian melakukan optimasi posisi eNodeB berdasarkan posisi BTS existing yang ada di Kota Padang, serta melakukan visualisasi analisa cakupan sinyal hasil optimasi. Hasil yang didapatkan adalah penempatan 20 ENodeB di wilayah urban dan 21 ENodeB di wilayah suburban dari 121 BTS yang sudah ada. Performansi penempatan ENodeB yang dihasilkan sebesar 77% dengan nilai optimalitas 100%. Kata Kunci: BTS existing, LTE, Particle Swarm Optimization. 1. PENDAHULUAN Penggunaan mobile data dan aplikasi multimedia pada pengguna jaringan telekomunikasi setiap tahunnya mengalami peningkatan. Secara global, diprediksi penggunaan trafik data seluler akan tumbuh 7 kali lipat dari 2016 sampai 2021, tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 47% dimana penggunaan trafik data seluler akan mencapai 49,0 Exabytes per bulan pada tahun 2021, naik dari 7,2 Exabytes per bulan pada tahun 2016[1]. Di Indonesia diperkirakan jumlah pengguna data mencapai 270 juta pengguna dalam kurun 3-4 tahun mendatang [2]. Dengan permintaan dari para pengguna untuk peningkatan kecepatan akses data dan kualitas layanan serta memastikan berlanjutnya daya saing sistem Generasi ke-3 (3G) masa depan, pada akhir tahun 2009 Third Generation Partnership Project (3GPP) mengembangkan teknologi yang dapat meningkatkan performa jaringan mobile, salah satunya adalah Long Term Evolution (LTE) [3]. LTE atau yang disebut dengan Generasi ke-4 (4G) merupakan suatu teknologi telekomunikasi bergerak yang dikeluarkan oleh (3GPP) Release 8 dan merupakan evolusi dari operator seluler 3G yang mengusung komunikasi berbasis voice dan data [4]. LTE mewakili kemajuan besar dalam teknologiselular, LTE meliputi data berkecepatan tinggi, dapat membawa komunikasi pada tahap tinggi, tidak hanya menghubungkan manusia saja tetapi juga menyambungkan mesin. Secara teori, LTE mempunyai kecepatan download hingga 100 Mbps. Teknologi LTE mempunyai kecepatan 10 kali dari jaringan 3.5G [5]. Munculnya teknologi baru dan meningkatnya jumlah pengguna seluler membuat penyelenggara jasa jaringan telekomunikasi membangun infrastruktur sistem komunikasi seluler [6]. Infrastruktur jaringan LTE yang penting dan terus menerus dibangun adalah Evolved Node B (ENodeB). ENodeB adalah perangkat pemancar dan penerima yang berfungsi menyediakan link physical radio antara user equipment dan jaringan, serta dapat dianalogikan sebagai Base Transceiver Station (BTS) pada sistem 2G (Generasi ke-2) atau Node B pada sistem Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) [4]. Berdasarkan peraturan Menteri Kominfo No.19/PER/M.KOMINFO/03/2009 yang menjadi salah satu pertimbangan utama bahwa pembangunan dan pengguna menara telekomunikasi sebagai infrastruktur pendukung dalam penyelenggara telekomunikasi harus