1 STRATEGI MEMILIH DAN MENGAPLIKASIKAN TEORI DALAM PENELITIAN BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA Drs. Puji Santosa, M.Hum. (APU) Peneliti Utama Bidang Kritik Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 1. Pengantar Ada tiga komponen pokok yang menyatu secara integral dalam proses penelitian yang tidak dapat ditinggalkan, yaitu 1) peneliti, 2) objek yang diteliti, dan 3) penelitian itu sendiri. Seperti halnya manusia dengan sarana dan prasarana yang digunakan serta sasaran yang dituju akan menjadi sesuatu yang tepat guna dan bermanfaat apabila ada kesatuan secara integral. Manusia dalam hidupnya memerlukan sarana dan prasarana pendukung untuk melakukan aktivitas, kreativitas, dan kerja. Dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang mendukung, tentu akan melancarkan aktivitas, kreativitas, dan kerja manusia. Agar semua yang dilakukan oleh manusia itu dapat bermanfaat, berguna, atau berfaedah bagi diri sendiri dan juga untuk masyarakat luas, niscaya menentukan objek atau sasaran akan dilakukan sesuai dengan tujuan dan kemampuan yang ada pada peneliti. Demikian halnya dengan proses penelitian, antara peneliti, objek yang diteliti, dan penelitian itu sendiri harus menyatu secara integral. Peneliti adalah manusianya, yaitu orang yang melakukan penelitian. Pada dasarnya setiap orang dapat menjadi peneliti. Sekalipun tidak ada seorang pun yang melarang menjadi peneliti, tetapi perlu disadari benar bahwa peneliti itu juga memiliki persyaratan kecakapan khusus tertentu, seperti penguasaan teori atau paradigma penelitian, metode dan teknik penelitian, konsep-konsep penelitian, serta berbagai persyaratan ilmiah lainnya. Kecakapan khusus tertentu ini dapat saja diperoleh melalui pengalaman hidup, pengamatan gejala-gejala alam yang ada di sekitar kita, membaca buku-buku atau tulisan-tulisan yang telah ada, dan tentu juga melalui dunia pendidikan. Bagi yang sudah menjadi peneliti, pengalaman setiap penelitian dari satu topik ke topik lain, dari waktu ke waktu, tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam menunjang hasil penelitiannya. Kita sering mendengar kabar bahwa beberapa siswa sekolah menengah atas banyak yang memenangkan lomba penulisan karya tulis ilmiah remaja yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kesempatan di perguruan tinggilah seseorang yang berbakat menjadi peneliti dapat mengembangkan kemampuan khusus kepenelitiannya. Cara itu dapat ditempuh dengan tekun belajar dan berani mencoba mempraktikan penelitian. Hasil penelitian itulah yang kemudian kita tulis menjadi karya tulis ilmiah, baik sebagai artikel untuk jurnal ilmiah, artikel untuk bunga rampai hasil penelitian, skripsi, tesis, disertasi, maupun monograf yang siap diterbitkan sebagai buku karya tulis ilmiah. Setelah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, seseorang dapat saja bergabung dengan lembaga penelitian (di mana pun) termasuk pada instansi pemerintah yang memiliki badan (direktorat) penelitian dan pengembangan atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berhubungan dengan penelitian, ataupun