Alam Minangkabau: Islamisasi dalam Empat Babak Akmal, M.Pd.I. Abstrak: Masyarakat alam Minangkabau adalah masyarakat yang tidak dapat lagi dipisahkan dengan Islam. Pandangan hidup Alam Minangkabau terwakili oleh slogannya yang sangat termasyhur, “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Berdasarkan kajian kepustakaan terhadap buku-buku sejarah, makalah ini berupaya mengungkap secara umum proses kompleks Islamisasi yang telah berlangsung sehingga menghasilkan kondisi yang kita jumpai sekarang, melalui pemaparan sejarah yang dibagi ke dalam empat periode, yaitu: (1) Islamisasi surau dan melalui surau, (2) Perang Paderi, (3) Kebangkitan Kaum Mudo, dan (4) Musyawarah adat. Keempat babak tersebut telah berkontribusi dalam membentuk masyarakat Minangkabau dengan kepribadian yang kita jumpai di masa kini. Pendahuluan Alam Minangkabau, yang seringkali diidentikkan dengan Provinsi Sumatera Barat, memiliki adat yang tidak lagi dapat dipisahkan dengan Islam. Tidak dipungkiri, Minangkabau memiliki sejarah pra-Islam juga, namun dapat dikatakan bahwa sejarah tersebut telah sepenuhnya terputus dari kehidupan masyarakat. Memang diakui bahwa Sriwijaya pernah memiliki kekuasaan luas di Sumatera, namun pengaruh agama Budha sudah nyaris tidak lagi terlihat dalam kehidupan masyarakat Minang masa kini. 1 Sudah sejak lama orang Minangkabau memeluk agama Islam, dan Islam telah mewarnai segala segi kehidupan mereka. Slogan Alam Minangkabau, yaitu “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, menunjukkan komitmen masyarakatnya terhadap ajaran Islam. 2 Secara adat, Minangkabau adalah Islam. Jika seseorang murtad, maka ia pun terputus dari ikatan adatnya, sehingga tidak akan ada orang yang mengakuinya lagi sebagai orang Minang. Meskipun tingkat keshalihan setiap individu berbeda-beda sebagaimana lazimnya di seluruh dunia Islam, namun adat yang berlaku di Alam Minangkabau masih sangat kuat memelihara ikatannya dengan agama Islam. Hal ini, misalnya, dapat diamati pada kuatnya pembelaan masyarakat Minangkabau terhadap isu-isu yang berhubungan dengan Islam. Pada tahun 2015, ketika seorang dosen filsafat 1 Sisa-sisa pengaruh Budha dapat terlihat dari penamaan sejumlah nagari di Sumatera Barat, antara lain Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Biaro, Sumpur dan Selo. Lihat Amir Sjarifoedin Tj. A., Minangkabau: Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol , Jakarta: PT. Gria Media Prima, 2014, Cet. III, hlm. 399. 2 Slogan ini, menariknya, juga merupakan slogan sebuah provinsi yang letaknya cukup jauh dari Sumatera Barat, yaitu Gorontalo.