TATA RUANG PASKA GEMPA MENURUT KONSEP BUDAYA BALI* Oleh : I Putu Sugih Arta,S.E.,M.M.** (Ketua Prodi Ekonomi Hindu, STAHN Gde Pudja Mataram) PENDAHULUAN. Gempa bumi yang meluluhlantakkan Pulau Lombok baru-baru ini, secara kajian iptek BMKG merupakan tumbukan antar lempeng yang berada pada perut bumi. Lempeng sesar flores yang bergerak membuat apapun dipermukaannya bergetar. Sehingga, rumah-rumah amblas rata dengan tanah. Peristiwa ini secara psikologis membuat traumatik yang panjang. Pasalnya, selama lahir di dunia fana, pertamakali melihat kejadian yang mengerikan dan sangat menakutkan. Apalagi, dibarengi isu tsunami memperparah rasa takut dengan bayangan pada layar kaca bagaimana ironisnya tsunami aceh. Sehingga, masyarakat terpanggil meninggalkan rumah mencari tempat yang tinggi. Fenomena pada saat gempa melanda, sampai pasca gempa masih meninggalkan trauma yang panjang. Untuk menyembuhkan berpulang pada diri sendiri, bagaimana mengatasi trauma melalui rasa sehingga kehidupan berjalan normal kembali.Sedangkan kualitas rasa diajarkan oleh setiap agama dengan cara berbeda-beda. Begitu pula menurut ajaran Hindu di Bali, yang mengenal kualitas manusia dalam Trilogi Dewa-Manusa-Butha (dewa ya manusa ya butha ya). Manusia yang mampu mengendalikan diri dalam taraf kesucian akan menjadi dewa dan dapat turun menjadi butha jika bergelimang materi. Hal ini diyakini, sehingga tak ada yang mau terjerumus ke lembah nista.