129 Eko Setiawan, Tradisi Ruwatan Murwakala Anak Tunggal tradiSi rUWataN MUrWaKala aNaK tUNGGal dalaM tiNJaUaN SoSioKUltUral MaSYaraKat JaWa Eko Setiawan Email: oke.setia@gmail.com aBStraCt The tradition of ruwatan children as one of the traditional Javanese heritage is still preserved. Ruwatan a purifcation to overcome or avoid an inner diffculty by way of performing wayang kulit by taking the murwakala or sudamala. The tradition of ruwat anak tunggal is the tradition of throwing away the sengkala or bad luck that existed in a single child. In the process of tradition ruwat usually done frst begins with a leather puppet performances. The Ruwatan tradition as part of Javanese customs is a tradition of traditional heritage which is still believed to be a means of disposing of sengkala or bad luck in a single child. KEYWord: Tradition Ruwatan, Sociocultural, Java Society i. PENdaHUlUaN Tradisi merupakan suatu kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat, dan merupakan mekanisme yang dapat membantu untuk memperlancar perkembangan pribadi anggota masyarakat, misalnya dalam membimbing anak menuju kedewasaan. Tradisi ini juga penting sebagai pembimbing pergaulan bersama dalam masyarakat. Tradisi yang kita terima perlu direnungkan dan disesuaikan dengan zamannya (Johanes, 1994). Tradisi merupakan keyakinan nenek moyang terdahulu yang dikenal dengan istilah animisme dan dinanisme. Animisme berarti percaya kepada roh-roh halus atau roh leluhur, yang ritualnya dalam persembahan tertentu di tempat-tempat yang dianggap keramat (Koendjaraningrat, 1954:103). Semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan gaib atau memiliki roh yang berwatak baik maupun buruk. Kepercayaan nenek moyang yang masih beranggapan bahwa disamping semua roh yang ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Supaya terhindar dari roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan upacara yang disertai dengan sesaji- sesaji (Amin, 2000:6). Sedangkan dinamisme adalah suatu istilah untuk menyebut sesuatu pengertian tentang sesuatu kepercayaan. Kata dinamisme berasal dari kata Yunani dynamis atau dynaomos yang artinya kekuatan atau tenaga (Ahmadi, 1991:35), jadi dinamisme ialah keyakinan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib, karena itu harus dihormati dan terkadang harus dilakukan ritual tertentu untuk menjaga tuah-nya. Keyakinan semacam itu membentuk perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam wujud etika maupun ekspresi dalam berkesenian. Melalui proses pewarisan dari generasi ke generasi lain, tradisi mengalami perubahan- perubahan baik dalam skala besar maupun kecil. Inilah yang dikatakan dengan invented tradition, dimana tradisi tidak hanya diwariskan secara pasif, tetapi juga direkonstruksi dengan maksud membentuk atau menanamkannya kembali kepada orang lain, oleh karena itu dalam memandang hubungan Islam dengan tradisi atau kebudayaan selalu terdapat variasi interpretasi sesuai dengan konteks lokalitas masing-masing (Khalil, 2008:1). Meskipun saat ini sudah termasuk era modern, akan tetapi tradisi dalam masyarakat di desa tersebut masih eksis, salah satunya adalah tradisi ruwatan, karena mereka meyakini bahwa tradisi tersebut membawa berkah dan keselamatan baik bagi si anak tunggal maupun orang tua dan keluarganya. Ruwatan merupakan ritual upacara membebaskan