Jahe untuk Mengatasi Nyeri saat Haid -Swamedikasi pada Dismenorea- oleh: Yoshinta Debby (162210101123) Fakultas Farmasi Universitas Jember Dismenorea atau nyeri saat haid, atau mungkin sering kita sebut dilepen adalah kondisi medis yang lumrah terjadi pada wanita sewaktu haid atau menstruasi. Nyeri ini akan dirasakan pada bagian abdomen atau perut bagian bawah sampai ke panggul bahkan sampai ke punggung, pusing, lemas, mual dan muntah. Dismenorea sangat banyak ditemui dikalangan wanita usia produktif, sehingga menggangu aktivitas di sekolah, perkuliahan maupun pekerjaan. Pada saat menstruasi, terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron karena tidak adanya pembuahan pada rahim, hal ini akan menimbulkan pelepasan prostaglandin, salah satu mediator inflamasi yang normal keberadaannya pada saat menstruasi untuk memberikan efek kontraksi pada rahim agar meluruhkan dinding rahim dalam bentuk darah. Dismenorea terjadi karena adanya peningkatan prostaglandin yang berlebihan, bahkan sampai 10x lipat dibandingkan yang tidak mengalami dismenorea, kadarnya yang tinggi dapat memicu kontraksi berlebihan pada otot-otot rahim hingga nyeri yang luar biasa. Peningkatan prostaglandin yang berlebihan dipicu adanya stres, depresi, aktivitas fisik yang berlebihan dan gaya hidup yang tidak sehat (merokok, minuman berakohol). Intensitas nyeri untuk setiap individu tergantung dari deskripsi individu itu sendiri tentang nyeri, persepsi dan pengalaman nyeri. Untuk mengatasi nyeri ini dapat diberikan analgesik atau anti-inflamasi non steroid (aspirin, ibuprofen, asam mefenamat, natrium diklofenak dll) atau kontrasepsi oral. Dari penelitian yang dilakukan oleh Ju pada tahun 2014, beberapa wanita yang mengalami dismenorea tidak dapat reda nyerinya dengan analgesik atau anti-inflamasi, beberapa tidak dapat menggunakan obat-obatan ini karena kontraindikasi atau efek sampingnya, dan beberapa memilih untuk tidak menggunakan obat apa pun. Analgesik dan anti-inflamasi memang iritatif untuk saluran cerna sampai menyebabkan pendarahan pada saluran cerna. Jika kita browsing di internet, banyak cara dan alternatif yang dapat dilakukan sendiri untuk mengatasi dismenorea. Usaha atau upaya untuk mengobati diri sendiri ini disebut sebagai swamedikasi. Contoh swamedikasi yang bisa dilakukan pada saat mengalami dismenorea adalah berolahraga, yoga, meditasi, mengompres perut dengan air hangat dan mengonsumsi tanaman herbal (jahe, kunyit, asam jawa dan kayu manis). Saya pribadi jika mengalami dismenorea akan melakukan swamedikasi dengan mengonsumsi jahe dan mengompres perut dengan air hangat. Jahe mudah didapatkan dan mengolahnya pun mudah. Jahe dicuci bersih dan dihilangkan kulitnya, satu ruas jahe (± 2 cm) dipotong menjadi beberapa bagian, kemudian direbus dengan menggunakan 150-200 ml air sampai mendidih. Semakin lama waktu perebusan, semakin kuat rasa jahe yang akan didapat. Air rebusan jahe yang masih hangat inilah yang saya konsumsi ketika mengalami dismenorea. Jahe (Zingiber officinale) digunakan di seluruh dunia sebagai bumbu atau rempah serta obat tradisional. Beberapa penelitian melaporkan bahwa jahe mengandung gingerol, shogaol,