ISTILAHISTILAH DALAM COFFEE SHOP (TINJAUAN SEMANTIK DAN ETIMOLOGI) Rahmad Wahyu Manda Putra 160110201041 Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember Jalan Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: rahmadw250@gmail.com ABSTRAK Tulisan ini membahas tentang istilah-istilah dalam Coffee Shop yang ditinjau dari segi semantik dan etimologi. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk istilah dalam Coffee Shop yang berupa kata dan frase yang ditinjau dari semantik dan etimologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tiga tahapan, yaitu: 1) metode dan penyediaan data dengan menggunakan metode simak dan metode cakap, 2) metode dan teknik analisis data dengan menggunakan metode deskriptif dan metode padan, dan 3) metode penyajian dan hasil analisis data dengan menggunakan metode informal. Istilah-istilah dalam Coffee Shop meliputi empat kriteria, yaitu dari asal atau wilayah, cara pembuatan minuman kopi, rasa kopi, dan jenis minuman kopi. Istilah Coffee Shop dalam bentuk kata berjumlah 17 istilah yang terdiri atas empat kriteria, yaitu dari asal atau wilayah memiliki 1 istilah, cara pembuatan minuman kopi memiliki 1 istilah, di rasa kopi memiliki 5 istilah, dan pada jenis minuman kopi memiliki 10 istilah. Istilah Coffee Shop dalam bentuk frase berjumlah 12 istilah yang terdiri atas empat kriteria, yaitu dari asal atau wilayah memiliki 2 istilah, di cara pembuatan minuman kopi memiliki 4 istilah, di rasa kopi memiliki 2 istilah, dan pada jenis minuman kopi memiliki 4 istilah. Jadi istilah-istilah dalam Coffee Shop yang ditinjau dari segi semantik dan etimologi memiliki 29 istilah yang terdiri atas asal atau wilayah kopi, cara pembuatan minuman kopi, rasa kopi, dan jenis minuman kopi. Kata Kunci: Istilah, Semantik, Etimologi, dan Coffee Shop. 1. PENDAHULUAN Sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu system lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Artinya, tidak ada hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang menandai serta berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai, yaitu referen dari kata atau leksem tersebut (Chaer, 2002:1). Bahasa mengalami pertumbuhan seiring dengan perkembangan budaya dalam masyarakat. Dalam suatu masyarakat, muncul variasi bahasa yang diciptakan secara kelompok ataupun individu itu sendiri. Munculnya