Aspirasi Pemuda Kelas Bawah dan Reproduksi Sosial di Jawa Tengah Oki Rahadianto Sutopo, Rani Dwi Putri, Karina Larasati Kusumawardhani Youth Studies Centre (YouSure) FISIPOL UGM oki.rahadianto@ugm.ac.id | raniedwi67@gmail.com | karlarasati@gmail.com ABSTRAK Jawa Tengah adalah salah satu provinsi yang progresif dalam mengembangkan industri terutama di bidang manu- faktur. Namun, angka pengangguran di kalangan pemuda di provinsi ini justru terhitung cukup tinggi. Tingginya angka pengangguran dan rendahnya tingkat partisipasi dalam pasar tenaga kerja di kalangan pemuda disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah gap antara Sumber Daya Manusia dengan permintaan di pasar tenaga kerja. Kesenjangan pendidikan, skill, dan akses informasi menjadi pemicu tidak tersaringnya pemuda dalam pasar kerja. Kesenjangan ini didasari oleh perbedaan kelas sosial yang melekat pada setiap pemuda. Selain itu, faktor perbedaan gender juga mempengaruhi kesempatan serta kebebasan dalam memilih pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan proses observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Dis- cussion (FGD) sebagai teknik pengumpulan data. Melalui purposive sampling 2 informan perempuan dan 2 informan laki-laki, penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor kelas sosial, gender, dan konteks yang berubah terutama dalam kondisi Labour Market Flexibility (LMF) menjadi faktor utama dalam membentuk dan meme- ngaruhi proses transisi dan aspirasi masa depan pemuda. Penerapan neoliberalisme dan Labour Market Flexi- bility justru melanggengkan reproduksi sosial berdasarkan kelas dan gender yang memungkinkan kesenjangan sosial akan semakin meningkat di masa depan. Kondisi ini akan semakin meminggirkan kaum muda miskin dan rentan. KATA KUNCI Pemuda | Gender | Kelas Sosial | LMF | Transisi | Aspirasi Masa Depan Jurnal Studi Pemuda Volume 7 Nomor 1 tahun 2018 http://doi.org/10.22146/studipemudaugm.42254 1. PENDAHULUAN Proses transisi dari domain pendidikan ke dunia kerja serta aspirasi masa depan merupakan subjek penting dalam kajian kepemudaan. Dalam bidang kepemudaan dan ketenagakerjaan, pemerin- tah Indonesia tengah berupaya untuk menurunkan angka pengangguran, dimana dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 disebutkan bahwa target pengangguran berada di sekitar 5 - 5,3 persen (Bap- penas 2010). Merial Institute mempublikasikan hasil kajian pembangunan kepemudaan nasional 2017 dan menyatakan bahwa jumlah generasi muda Indonesia meningkat, namun angka pengangguran bertambah. Data BPS 2016 mencatat jumlah pemuda Indonesia mencapai 62.061.400 jiwa. Namun ternyata dalam kurun 3 tahun dari 2012-2015 pengangguran pemu- da cenderung meningkat, padahal potensi yang di- miliki dalam menggerakkan aktivitas ekonomi sangat besar (Indrawan 2017) Terjadinya peningkatan jumlah generasi muda ini pun berdampak terhadap perubahan pola dan minat lapangan pekerjaan di sek- tor-sektor ekonomi tertentu. 1 Jurnal Studi Pemuda 7(1), 2018 www.jurnal.ugm.ac.id/jurnalpemuda Tabel 1. Persentase Pemuda menurut Jenis Kegiatan dalam Seminggu Terakhir, 2017