65 Jurnal Ners Indonesia, Vol.6 No.1, September 2016 PENGGUNAAN NESTING DENGAN FIKSASI MAMPU MENJAGA STABILITAS SATURASI OKSIGEN, FREKUENSI PERNAFASAN, NADI DAN SUHU PADA BAYI PREMATUR DENGAN GAWAT NAPAS: STUDI KASUS Murniati Noor 1 , Oswati Hasanah 2 , Rumina Ginting 3 Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau Email : murniati.noor@gmail.com Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan nesting dengan fksasi pada development care terhadap stabilitas saturasi oksigen, frekuensi pernafasan, nadi dan suhu pada bayi prematur dengan gawat napas. Metode yang di gunakan adalah case study dengan menggunakan 3 responden yang di rawat di ruangan NICU perinatologi RSUD Arifn Ahmad Propinsi Riau yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah bayi premature (<37 minggu), mengalami gawat nafas (down score 4 – 7), berat badan lahir rendah (< 2500 gram), dan memakai alat bantu pernafasan. Hasil pengamatan setelah dilakukan penerapan penggunaan nesting dengan fksasi menunjukkan rata-rata saturasi oksigen dari ketiga responden tidak terdapat perbedaan dan masih dalam batas normal, berkisar antara (90-100%). Hasil pengamatan frekuensi nadi, pernafasan dan pemakaian alat bantu pernafasan serta dampak terhadap berat badan di dapatkan bahwa penggunaan nesting dengan fksasi membantu peningkatan berat badan dengan stabilnya frekuensi nadi dan pernafasan, serta lama pemakaian alat bantu pernafasan menjadi lebih singkat. Hasil ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menerapkan pemakaian nesting dengan fksasi pada perawatan bayi dengan gawat nafas di ruangan NICU perinatologi RSUD Arifn Achmad Propinsi Riau. Kata kunci: nesting, fksasi, gawat nafas, TTV. PENDAHULUAN Bayi prematur adalah bayi yang lahir kurang dari 37 minggu, tanpa memperhitungkan berat badan lahir (Wong et al, 2009). Masalah yang paling sering terjadi pada bayi prematur disebabkan karena imaturitas organ tubuh, sehingga akan berdampak pada kondisi fsiologis dan biokimia tubuh yang menyebabkan gangguan (misalnya hipoglikemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan sebagainya, hal ini dapat menimbulkan kematian (Bayuningsih, 2011). Setiap tahun dilaporkan ada sekitar 15 juta bayi lahir prematur di dunia , lebih dari satu dalam 10 kelahiran. Kelahiran prematur meningkat tiap tahun hampir semua Negara. World health organization (WHO) menargetkan bahwa hingga tahun 2015, 16 juta bayi dapat diselamatkan. Namun, kenyataan nya tingkat penurunan untuk pengurangan angka kematian masih tidak mencukupi untuk mencapai target yang di tetapkan, khususnya di Sub- Sahara Afrika dan Asia Selatan. Salah satu hambatan penting untuk kemajuan MDGs 4 sehingga gagal untuk mengurangi kematian bayi yaitu kematian akibat tunggal, prematuritas (WHO, 2012). Bayi prematur umumnya memiliki berat lahir rendah, sehingga membutuhkan usaha penyesuaian terhadap kehidupan ekstrauterin yang lebih berat di bandingkan bayi yang cukup bulan. Bayi prematur juga menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya akibat maturasi organ yang belum tercapai pada saat dilahirkan. Prognosis bayi dengan berat lebih dari 1800 gram lebih baik dari bayi dengan berat antara 1500 sampai 1800 gram (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2005).