1 SISTEM MORFOLOGI BAHASA BATAK TOBA: KAJIAN TRANSFORMASI GENERATIF Esron Ambarita esronambarita@gmail.com Sekolah Pasca Sarjana Program Doktor Linguistik Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menggali sistem morfologi Bahasa Batak Toba dari sudut pandang kajian transformasi generatif. Issu sentral dalam kajian mikrolinguistik ini adalah pembentukan-pembentukan kata melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Penelitian morfologi bahasa Batak Toba selama ini dilakukan berdasarkan teori morfologi struktural yang mengkaji fenomena kebahasaan dengan dangkal sehingga penomema kebahasaan yang nyata ada di lapangan cenderung diabaikan karena teori yang digunakan tidak mampu menuntaskan penomena tersebut. Contohnya, dalam bahasa Indonesia bentuk-bentuk kata berikut ini tidak ditemukan: *ambilan „sesuatu yang diambil‟, *berpesawat „pergi naik pesawat terbang‟, dan *keobatan „meninggal atau sakit karena mengonsumsi obat kelebihan dosis‟. Pada pihak lain kata- kata jajanan, bersepeda, dan keracunan yang beranalogi sama dengan ketiga kata sebelumnya sudah sangat lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Batak Toba, misalnya, kita tidak akan menemukan kata-kata *lehonan „pemberian‟, *marsintua „mengunjungi penatua gereja untuk meminta petunjuk‟ , dan *mamiso „memotong sesuatu dengan menggunakan pisau‟. Padahal dalam bahasa Batak Toba kata-kata tongosan „kiriman’, mardatu „menjumpai dukun untuk tujuan tertentu‟, dan manakkul „mengerjakan pertanian dengan menggunakan cangkul‟ adalah kata-kata aktual yang memiliki analogi yang sama dengan kata-kata *lehonan, *marsintua, dan *mamiso. Berdasarkan penomena bahasa Batak Toba di atas, teori yang paling relevan diaplikasikan untuk menyelesaikan permasalahan yang demikian dan permasalahan yang sejenisnya sampai setuntas-tuntasnya adalah teori morfologi generatif. Dengan demikian, penelitian ini berpijak pada teori morfologi generatif yang diprakarsai oleh Halle (1973), Aronoff (1976), Scalise (1984), dan dimodifikasi oleh Dardjowidjojo (1988) sesuai dengan keadaan bahasa Indonesia sebagai kelompok bahasa Austronesia. Teori morfologi generatif mensyaratkan adanya empat komponen yang terpisah yaitu: (1) Daftar Morfem, (2) Kaidah Pembentukan Kata, (3) Saringan, dan (4) Kamus. Morfologi generatif memiliki daya prediksi yang potensial untuk menghasilkan kata- kata potensial yang suatu saat akan menjadi kata-kata aktual di kalangan penuturnya. Metode yang akan digunakan dalam dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang mengangkat penomena bahasa yang diteliti secara alami tanpa manipulasi dan tidak mengesampingkan penomena yang ada. Penelitian ini akan dilaksanakan di empat kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, yaitu: (1) Kabupaten Samosir, (2) Kabupaten Toba Samosir, (3) Kabupaten Humbang Hasundutan, dan (4) Kabupaten Tapanuli Utara. Ada tiga jenis data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini, yaitu: (1) data lisan, (2) data tertulis, dan (3) data intuisi. Data-data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan metode padan dan metode distribusional. Kata kunci: sistem morfologi, morfologi generatif, kata-kata potensial