HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Vol. I, No. 2 (April 2018) 25 IMPLEMENTASI MATERI SEJARAH LOKAL GERAKAN SOSIAL MESSIANISTIK DAN NATIVISME DI BANTEN MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK Rikza Fauzan Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa rikza.fauzan@untirta.ac.id Abstract: Less interest in history lessons becomes a serious problem for education in Indonesia. Te lesson of history actually serves as a characteristic form of the younger generation. Tis issue certainly describes the conditions that are prone to the survival of the nation and state of Indonesia. Te Government is quick to respond to this problem by positioning history subjects as a key element in the Curriculum 2013. In the Curriculum 2013, the lesson of history is divided into two parts: History of Indonesia and History (Development of the Social Sciences). Tis resulted in a change in the hours of history subjects that more than doubled from before. Te 2013 curriculum in its learning uses a scientifc approach (scientifc appoach) which includes components: observing, asking, trying, processing, presenting, summarizing, and creating. Tis allows more freedom of various historical materials taught to learners. One of them is local history material. Local history is a history that occurs in spatial (space) certain locality in a community with temporal (time). Tis event can occur simultaneously with national history. Te local history of the social movement in Banten is one of the lesser-cared material as an integral part of the periodic struggle for independence in National History. Learning history with local history material is more easily understood learners, because it can see frsthand the real life reality in the nearest environment. Between learners, contemporary life and historical events will form an identity bond that facilitates the inheritance of values. Te inheritance of values in the events of Kyai’s social movements and farmers in Banten would be easier in shaping positive values, such as patriotism and love of the homeland. Abstrak: Kurang diminatinya pelajaran sejarah menjadi satu masalah serius bagi pendidikan di Indonesia. Pelajaran sejarah sesungguhnya sangat berfungsi sebagai pembentuk karakter generasi muda. Masalah ini tentu menggambarkan kondisi yang rawan bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Pemerintah dengan cepat merespons masalah ini dengan cara memposisikan mata pelajaran sejarah sebagai unsur utama yang diperhatikan dalam Kurikulum 2013. Pada Kurikulum 2013, pelajaran sejarah terbagi menjadi dua bagian: Sejarah Indonesia dan Sejarah (Peminatan Ilmu-ilmu sosial). Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan jam mata pelajaran sejarah yang meningkat lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya. Kurikulum 2013 dalam pembelajarannya menggunakan pendekatan ilmiah (scientifc appoach) yang didalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Hal ini memungkinkan lebih leluasanya berbagai materi sejarah diajarkan kepada peserta didik. Salah satu diantaranya ialah materi sejarah lokal. Sejarah lokal merupakan sejarah yang terjadi dalam hal spasial (ruang) lokalitas tertentu dalam suatu komunitas masyarakat dengan temporal (waktu). Kejadian ini dapat terjadi secara bersamaan dengan sejarah nasional. Sejarah lokal mengenai gerakan sosial di Banten menjadi satu diantara materi yang kurang diperhatikan sebagai bagian integral dalam periodesasi perjuangan kemerdekaan pada Sejarah Nasional. Pembelajaran sejarah dengan materi sejarah lokal lebih mudah dipahami peserta didik, karena dapat melihat secara langsung realitas kehidupan sesungguhnya di lingkungan terdekat. Antara peserta didik, kehidupannya masa kini, dan peristiwa sejarah akan membentuk sebuah ikatan identitas yang memudahkan pewarisan nilai-nilai. Pewarisan nilai dalam peristiwa gerakan sosial Kyai dan petani di Banten akan lebih mudah dalam membentuk nilai-nilai positif, seperti patriotisme dan cinta tanah air. Kata Kunci: kurikulum 2013, pendekatan saintifk, sejarah lokal PENDAHULUAN Permasalahan yang terjadi di lapangan dalam pembelajaran sejarah ialah anggapan yang mengatakan bahwa pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang menjenuhkan, membosankan, model pembelajaran yang monoton, dan kemampuan guru yang tidak optimal dalam melakukan pengembangan. Pendapat tersebut tidak hanya keluar dari pemahaman siswa akan tetapi dari guru-guru tersebut pada saat melakukan persiapan pembelajaran. Terkadang ada anggapan bahwa mengajar sejarah itu terlalu mudah hanya tinggal membaca buku yang sama dengan siswa kemudian dijelaskan, padahal hal tersebut keliru.