Model Sistem Dinamik Perubahan Guna Lahan Pertanian Perkotaan di Kabupaten Bogor Forum Ilmiah, Volume 11 Nomor 2, Mei 2014 268 MODEL SISTEM DINAMIK PERUBAHAN GUNA LAHAN PERTANIAN PERKOTAAN DI KABUPATEN BOGOR Darmawan Listya Cahya Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota â Fakultas Teknik, Universitas Esa Unggul Jalan Arjuna Utara No. 9 Kebon Jeruk, Jakarta 11510 darmawan@esa.unggul.ac.id Abstrak Kabupaten Bogor yang mempunyai jumlah penduduk pada tahun 2011 sebesar 4.353.591 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Bogor tahun 2010-2011 cukup tinggi yaitu sekitar 3,13%. Konsekuensi dari laju pertumbuhan penduduk yang tinggi adalah laju pertumbuhan perumahan juga menjadi tinggi. Dan hal ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya alih fungsi lahan yang lajunya sangat cepat. Alih fungsi lahan ini menyebabkan berkurangnya lahan sawah dan berdampak kepada semakin rentannya ketahanan pangan di Kabupaten Bogor.Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi perubahan guna lahan pertanian perkotaan di Kabupaten Bogor, dan menyusun model sistem dinamik perubahan guna lahan pertanian perkotaan yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang dikumpulkan dengan metode survey pengamatan langsung dan survey instansi. Pemodelan sistem dinamik perubahan guna lahan pertanian perkotaan dilakukan dengan menggunakan software Powersim. Dengan model sistem dinamik dapat digambarkan bahwa kebutuhan lahan dipicu oleh adanya pertambahan penduduk atau kenaikan pendapatan yang akan meningkatkan lahan terpakai. Alih fungsi terjadi karena adanya permintaan lahan yang melebihi yang dialokasikan, sehingga jika tidak ada regulasi yang ketat akan berlaku mekanisme pasar, dimana lahan akan beralih fungsi ke pada fungsi yang permintaannya besar. Untuk mengantisipasi kebutuhan lahan secara berkelanjutan maka harus dipertimbangkan kebijakan- kebijakan khususnya pengaturan lahan yang dapat mengarahkan pembangunan (penduduk dan pertumbuhan ekonomi) secara berkelanjutan. Kata kunci: model, sistem dinamik, lahan Pendahuluan Alikodra (2009) menyebutkan bahwa krisis global â3Fâ, Food (pangan), Fuel (energi), dan Financial (keuangan) yang telah melanda dunia, baik negara- negara miskin di Asia dan Afrika maupun negara-negara maju dan kaya seperti Amerika Serikat dan Inggris, merupakan pengalaman yang harus diantisipasi. Krisis yang awalnya dipicu oleh kemacetan kredit perumahan murah (subprime mortgage) di Amerika Serikat membangkrut-kan sejumlah lembaga keuangan dunia yang ternyata diiringi pula dengan krisis pangan (food) dan minyak (fuel). Dampak yang paling parah dirasakan sebagian besar warga dunia termasuk Indonesia adalah krisis pangan. RUAF (2008) memprediksikan bahwa pada Tahun 2020 terdapat sekitar 75% dari penduduk negara berkembang (termasuk Indonesia) akan tinggal di perkotaan di mana sekitar 40% penduduk perkotaan tersebut merupakan penduduk miskin. Menurut data BPS Tahun 2009, jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai