PENGARUH VARIASI ARUS PENGELASAN TIG (TUNGSTEN INERT GAS) TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK PADA STAINLESS STEEL HOLLOW 304 Mohamad Lasno, Helmy Purwanto * , M. Dzulfikar Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Wahid Hasyim Jl. Menoreh Tengah X/22, Sampangan, Semarang 50236, Indonesia * Email: Odonx_mancunian@yahoo.com Abstrak Penggunaan stainless steel pada bidang rekayasa konstruksi baja berkembang sangat signifikan, hal ini karena stainless steel memiliki beberapa keunggulan seperti sifat tahan korosi, kuat, ringan, tidak mudah memuai pada suhu tinggi serta tampilan yang menarik. Salah satu proses penyambungan yang dapat dilakukan pada material stainless steel adalah dengan pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas). Pemilihan kuat arus yang berbeda dalam pengelasan TIG sangat mempengaruhi sifat fisik dan mekanik terhadap mutu hasil lasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel arus listrik terhadap uji foto makro dan mikro, uji tarik serta distribusi kekerasannya. Penelitian ini menggunakan material stainless steel hollow 304 dengan tebal 1.5 mm, elektroda tungsten Weldcraft AWS EWTH-2 dan filler Nikko Steel NSN-308LR berdiameter 1,6 mm yang divariasikan dengan arus pengelasan 60 A, 70 A, 80 A, 90 A dan 100 A. Hasil foto makro dan struktur mikro menunjukkan bahwa pengelasan yang paling bagus terdapat pada arus 100 A, karena terlihat permukaan hasil lasnya halus (tidak bersekat) dan penetrasinya dalam. Struktur mikro pada daerah las juga lebih halus dan rapat , didominasi fasa austenite serta terdapat kandungan karbida krom yang mengembang. Pengujian tarik paling tinggi adalah 608.95 MPa terletak pada penggunaan arus 100 A, dan kekuatan tarik paling rendah terdapat pada penggunaan arus 60 A dengan nilai 438.97 MPa. Distribusi kekerasan paling tinggi di daerah las adalah 88 HRB terletak juga pada pengelasan arus 100 A dan paling rendah 84.25 HRB pada arus 80 A. Sedangkan nilai kekerasan paling tinggi pada daerah HAZ adalah 72.75 HRB dengan arus 60 A dan nilai kekerasan paling rendah terletak pada arus 100 A dengan nilai 60.75 HRB. ini menandakan bahwa panas yang masuk saat pengelasan dapat memperbesar butir atau struktur mengalami pemuaian dan struktur logamnya menjadi kasar. Dimana kekasaran struktur logam pada suatu material dapat menurunkan sifat kekerasannya Kata kunci: Arus, foto makro-mikro, kekerasan, stainless steel dan uji tarik 1. PENDAHULUAN Kemajuan rekayasa konstruksi baja dalam bidang perancangan konstuksi rumah tangga, konstruksi mesin dan bangunan perkembangannya semakin pesat. Penggunaan material baja tahan karat (stainless steel) sangat tepat untuk digunakan dalam industri rekayasa konstruksi baja, karena stainless steel memiliki beberapa keunggulan seperti tahan pada suhu tinggi, kuat, ringan, ketahan korosi yang tinggi serta tampilannya yang menarik (berseri). Dalam hal rekayasa konstruksi baja tentunya berkaitan erat dengan proses pengelasan, karena pengelasan sangat berpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari desain produk. Pengelasan adalah penyambungan dua buah logam berbeda dengan cara memanaskan atau menekan, yang kemudian menyambung dan menjadi satu seperti benda utuh (Alip, 1989). Salah satu metode pengelasan yang sering digunakan dalam proses penyambungan stainless steel adalah pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) atau yang sering disebut juga dengan GTAW (Gas Tungsten Arc Welding). Dalam proses pengelasan selain keterampilan dari seorang pengelas (welder), pemilihan kuat arus yang tepat juga sangat berpengaruh terhadap kualitas sambungan lasan. Penggunaan arus yang besar dapat mempengaruhi struktur atom di daerah lasan, karena semakin panas suhu akan mengakibatkan daerah HAZ (Heat Affected Zone) membuat pengaruh rekristalisasi. Dimana rekristalisasi menyebabkan butir-butir daerah las bertambah besar, sehingga butiran-butiran yang membesar tersebut akan menurunkan kekuatan serta kualitas sambungan las. Baja tahan karat (stainless steel) merupakan material baja dengan paduan tinggi, yang kualitas sambungannya akan menjadi getas karena