Budaya Adat Nias Sebagai Ketahanan Nasional Dewasa ini kita ketahui bahwa banyak ancaman yang secara tidak langsung dapat membahayakan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Berbicara mengenai penguatan Ketahanan Nasional tidak hanya melalui cara-cara yang berhubungan dengan wajib militer seperti angkat senjata, tetapi salah satu hal yang dapat ditempuh untuk memperkuat Ketahanan Nasional Indonesia, yaitu melalui budaya atau adat istiadat yang ada di Indonesia. Untuk itu saya akan membahasa salah satu budaya yang dapat dijadikan sebagai alat ketahanan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu budaya adat Nias. Budaya merupakan perkembangan majemuk dari “budi daya” yang berarti “daya dari budi”, jadi budaya berupa cipta, karsa, dan rasa. Sementara itu kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa. Dalam budaya terdapat yang namanya sistem budaya, yaitu ide atau gagasan yang berasal dari manusia yang hidup di masyarakat. Sistem budaya biasa disebut dengan adat-istiadat. Sistem budaya ini dapat berfungsi untuk menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia. Menurut C. Kluckhohn sistem nilai budaya dalam tiap kebudayaan mengandung lima masalah dasar dalam kehidupan, yaitu: 1. Masalah hakikat dari hidup manusia. 2. Masalah hakikat dari karya manusia. 3. Masalah hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu. 4. Masalah hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya. 5. Masalah hakikat dari hubungan manusia dengan sesamanya. Ketahanan berasal dari asal kata “tahan”, yaitu tahan menderita tabah, kuat, dapat menguasai diri, dan tidak kenal menyerah Menurut istilah Ketahanan Nasional adalah peri hal keteguhan hati untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Jadi dapat disimpulkan bahwa budaya sebagai ketahanan nasional itu berupa adat-istiadat yang dapat menjadi pelindung negara dari ancaman dalam ataupun luar negeri. Dalam kaitan ini Geriya menunjukkan bahwa ada sekurang-kurangnya tujuh indikator terkait dengan kemampuan ketahanan modal budaya suatu kolektiva untuk tumbuh secara surplus atau defisit. Ketujuh indikator tersebut adalah: 1. Ketahanan ideal (ketahanan sistem nilai)