Vol. 21, No. 1, Maret 2019: 34 - 39 Sosiohumaniora - Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora ISSN 1411 - 0903 : eISSN: 2443-2660 DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v21i1.19024 Menyerahkan: 17 Oktober 2018, Diterima: 20 Februari 2019, Terbit: 04 Maret 2019 KOMUNITAS JAWA DI DESA WONOHARJO SEBAGAI JEJAK MIGRASI ETNIS JAWA KE KABUPATEN PANGANDARAN Dian Indira, Raden Muhammad Mulyadi, dan Riki Nasrullah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran E-mail: dian.indira@unpad.ac.id ; r.m.mulyadi@unpad.ac.id ; rikinasrullah5@gmail.com ABSTRAK. Terjadinya kontak budaya antara satu budaya dengan budaya di lingkungan masyarakat Indonesia yang multikultural berlangsung secara alami. Akulturasi budaya berupa perpaduan antara budaya-budaya yang hidup di dalam masyarakat tidak terhindarkan dan hal yang menarik budaya asli masing-masing tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari pemilik budaya. Di Desa Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran komunitas masyarakat Jawa hidup berdampingan dengan masyarakat Sunda. Masyarakat yang hidup dalam komunitas ini tetap mempertahankan nilai-nilai dan pranata Jawa yang mereka miliki. Komunikasi sehari-hari yang terjalin antar-penduduk Desa Wonoharjo dilakukan di dalam bahasa Jawa. Saat mereka bekomunikasi dengan masyarakat Sunda mereka menggunakan bahasa Sunda, yang dikenal dengan istilah bahasa Jawa Reang. Di wilayah Pangandaran sendiri pertunjukan ‘Kuda Lumping’, yang sesungguhnya seni yang hidup dalam komunitas masyarakat Jawa di mana pun, dikenal oleh masyarakat Pangandaran pada umumnya salah satunya berasal dari Desa Wonoharjo. Metode yang digunakan adalah metode historis, yang digunakan untuk merekonstruksi masa lalu. Tahapan metode historis terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiograf. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi jejak migrasi masyarakat Jawa ke wilayah Pangandaran dan mengkaji kehidupan mereka sehari-hari di dalam lingkungan masyarakat Sunda. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya akulturasi dan asimilasi dalam seni dan bahasa Jawa dengan seni budaya dan bahasa Sunda di Desa Wonoharjo Kecamatan Pangandaran. Kata kunci: migrasi; Etnis Jawa; Pangandaran; Desa Wonoharjo; akulturasi budaya JAVANESE COMMUNITY IN WONOHARJO VILLAGE AS MIGRATION PATH OF JAVANESE ETHNIC TO PANGANDARAN REGENCY ABSTRACT. The occurrence of cultural contact between one culture and the other culture in a multicultural Indonesian society take place naturally. Cultural acculturation in the form of a combination of cultures that live in society is unavoidable. The interesting thing is that each cultural community lives in its own culture in the daily life . In Wonoharjo village, Pangandaran Regency, the Javanese community lives side by side with the Sundanese people. People in this community still maintain their Javanese values and institutions. Daily communication between the residents of Wonoharjo village is Javanese, including Friday sermons. When they communicate with the Sundanese people, they use Sundanese, which is known as the Reang Javanese language. In Pangandaran region the performance of ‘Kuda Lumping’is known generally by the Pangandaran people, one of whom comes from Wonoharjo village.’Kuda Lumping’is excatly the real art that lives in the Javanese community everywhere. The method used is the historical method, which is used to reconstruct the past. The stages of the historical method consist of heuristics, criticism, interpretation and historiography. This study aims to reconstruct the traces of Javanese migration to Pangandaran and examine their daily lives in the Sundanese community. The results of this study found some acculturation between Java and Sunda etnic. The acculturation showed in language and art performance of Kuda Lumping in Wonoharjo, distric of Pangandaran. Key words: migration; Javanese society; Pangandaran; Wonoharjo Village; acculturation. PENDAHULUAN Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Indonesia disebut negara kepulauan karena banyaknya pulau yang berada di dalam kawasan negara Indonesia. dan pada 2012 tercatat di PBB terdapat 13.466 pulau. Kondisi geografs satu wilayah dengan wilayah yang lain pun tidaklah sama, oleh karena itu tidak mengherankan apabila di Indonesia tercatat terdapat 746 bahasa daerah yang mencerminkan budaya dan juga adat istiadat pemilik bahasa daerah tersebut (Djajasudarma, et.al.; 2016:1-3). Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural, yang dipahami sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen, baik itu suku, ras, dan lain-lain yang hidup dalam suatu kelompok masyarakat yang memiliki satu pemerintahan tetapi dalam masyarakat itu masing-masing masih terdapat segmen-segmen yang tidak bisa disatukan Oleh karena itu, dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa, bangsa Indonesia patut berbangga memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Meskipun berada di pulau yang sama, misalnya Pulau Jawa, kelompok masyarakat suku Jawa, belum tentu memahami bahasa lainnya yang terdapat di Pulau Jawa seperti bahasa Sunda atau Baduy (Banten). Di wilayah Jawa Barat sendiri terdapat dua bahasa daerah lainnya yang digunakan oleh tiga suku asli Jawa Barat, yaitu Melayu Betawi, dan Cirebon. Suku Sunda adalah penutur bahasa daerah kedua terbesar di wilayah Pulau Jawa dengan jumlah penutur sebanyak 27 juta jiwa (Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 Tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, Dan Aksara Daerah), Masyarakat etnis Jawa, yang biasa disebut dengan orang Jawa memang merupakan jumlah tertinggi,