Ekosistem Hutan Pegunungan Bawah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung .... Indra A.S.L.P. Putri 115 EKOSISTEM HUTAN PEGUNUNGAN BAWAH TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG: HOTSPOT KEANEKARAGAMAN HAYATI BURUNG DAN MANAJEMEN KONSERVASINYA (Submontane Forest at Bantimurung Bulusaraung National Park: Hotspot of Bird Diversity and Its Management Conservation) Indra A.S.L.P. Putri Balai Penelitian Kehutanan Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan Km.16 Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia Kode Pos 90243 Telp. (0411) 554049, Fax. (0411) 554058 E-mail: indra.arsulipp@gmail.com Diterima 6 Juni 2014; revisi terakhir 2 Juli 2015; disetujui 10 Agustus 2015 ABSTRAK Hutan pegunungan bawah dikenal sebagai salah satu hotspot keanekaragaman hayati. Namun informasi mengenai keanekaragaman hayati burung yang terdapat di ekosistem ini tergolong masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi ilmiah mengenai ekosistem hutan pegunungan bawah yang kaya akan keanekaragaman hayati burung dan manajemen konservasinya. Pengumpulan data keanekaragaman burung dilakukan di tiga lokasi ekosistem hutan pegunungan bawah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) dan dilakukan dengan menggunakan metode count point. Analisis data dilakukan dengan menggunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Weiner, indeks kemerataan jenis Pielou, indeks dominasi Simpson, indeks kekayaan jenis Margalef dan indeks kesamaan jenis Sorensen. Beda nyata pada populasi burung yang dijumpai di lokasi penelitian diuji dengan menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekosistem hutan pegunungan bawah TN Babul kaya akan keanekaragaman hayati burung, kaya akan spesies endemik, langka dan dilindungi. Kondisi populasi burung tergolong baik, meskipun terdapat perbedaan nyata pada jumlah individu burung yang dijumpai di lokasi penelitian akibat adanya perbedaan tingkat gangguan oleh manusia. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan pemahaman masyarakat tentang zonasi, serta partisipasi berbagai pihak bagi peningkatan peran dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi. Selain itu juga diperlukan adanya kesinambungan program konservasi yang dilaksanakan oleh pihak TN Babul, agar kelestarian ekosistem hutan pegunungan bawah dan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya tetap lestari. Kata kunci: Hutan pegunungan bawah, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, keanekaragaman burung, manajemen konservasi. ABSTRACT Submontane forest is considered as one of the biodiversity hotspot. Scientific information on bird diversity in this forest, however are lacking. The aim of this research was to find out submontane forest bird diversity and its conservation management. The research was carried out in three forests areas at Bantimurung Bulusaraung National Park submontane forest. Point Count method was used to observe bird population. Data were analyzed using Shannon-Weiner diversity index, Pielou Evenness index, Simpson dominance index, Margalef species richness index, and Sorensen Similarity index. The significance different between the number of individual bird was tested using Kolmogorov-Smirnov test. The result showed that submontane forest at Bantimurung Bulusaraung National Park is rich in bird diversity, bird endemic species and protected bird species. There was a significant different on the number of individual bird at several human disturbance levels. Based on these conditions, it is important to enhance understanding of the local people regarding zonation and develop cooperation with many stakeholders to increase the local community awareness concerning forest conservation. It is also necessary to ensure the sustainability of the National Park’s conservation program to maintain the submontane forest conservation. Keywords: Submontane forest, Bantimurung Bulusaraung National Park, bird diversity, conservation management. I. PENDAHULUAN Ekosistem hutan pegunungan bawah merupakan salah satu sub zona dari ekosistem hutan pegunungan (Van Steenis, 2006). Ekosistem hutan pegunungan bawah dijumpai pada ketinggian 750 m 1.500 m dpl (Turner et al., 2006), meskipun ada juga yang menyatakan bahwa ekosistem ini dijumpai mulai dari ketinggian 1.000 m dpl (Eisermann dan Schulz, 2005; Van Steenis, 2006); Supriatna, 2008. ©JPKW-2015. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp115-128 Available online at www.jurnal.balithutmakassar.org Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea eISSN: 2407-7860 pISSN: 2302-299X Vol.4. Issue 2 (2015) 115-128 Accreditation Number: 561/Akred/P2MI-LIPI/09/2013