Tabligh Edisi XXIII/ Juni 2011 192 MEMBANGUN ETIKA DAI BERBASIS AL-QUR’AN Oleh: Iftitah Jafar Abstract This paper tries to elaborate some ethical concept in the Qur ‟an. As a book of da‘wa, Qur‟an provides a rich concept of ethics that should be possessed by Islamic prescehr (dȃ‘ȋ).some pf them wil reveal as follows: Dȃ‘ȋ should be mildly not only in his presentation, but also in daily life, the absence of this ethics will result in the failure of da‘wa acitivity. Audience usually judged people especially dȃ‘ȋ in his ethical performance which enables them to decide they accept the Isamic message or not. The other Qur‟anic ethical concept is practicing the message before communicating to the audience. Audience tends to appreciate dȃ‘ȋ who acting as a model in the society. His speech has been manifested in his attitude and action. Moreover, sincere is also considerable impotant for each dȃ‘ȋ because it is motivated him in da‘wa efforts without hoping a material reward. It is also a determinant factor whether his da‘wa actvty is considered as a part of worship or not. In addition, patient should be reflected in dȃ‘ȋ‟s performance especially if he accounters such crucial probems. Patient energizes dȃ‘ȋ in conducting a long term of da‘wa. Key Words: Concept, Ethics, Dai, Qur’an Pendahuluan Dai adalah salah satu elemen dakwah yang utama. Keberhasilan dakwah akan banyak ditentukan oleh kualitas dai. Kualitas ini sendiri sebagiannya terletak pada etika yang senantiasa terpancar dari dai. Etika dai merupakan sesuatu yang secara inheren melekat pada diri dai tidak saja di kala dia berada di atas mimbar tetapi juga sewaktu berada di tengah-tengah masyarakat. Kesuksesan dakwah kelihatannya menghendaki perpaduan antara etika dakwah dalam artian etika yang mengitari pelaksanaan dakwah dengan etika di luar aktivitas dakwah. Varian etika yang telah dirumuskan para ahli dakwah terkait langsung dengan ke dua domain dai ini. Etika ini akan semakin kaya kalau dilengkapi dengan etika komunikasi, khususnya di saat berlangsung proses komunikasi. Komunikasi tampaknya lebih menitikberatkan aplikasi etika ini pada proses komunikasi, sementara dalam konteks dakwah agaknya etika lebih banyak ditekankan di luar proses dakwah. Idealnya memang kemasan etika dalam dua spektrum tadi selayaknya terdapat pada seorang dai. Alqur‟an sebagai pedoman dakwah sangat kaya dengan etika yang seharusnya menghiasi kehidupan seorang dai. Alqurán sebagai kitab dakwah hanya memberikan landasan etika secara umum dan tidak mengaitkannya dengan dua domain dakwah tadi. Sebagai kitab suci, Alqur‟an memang hanya memberi pedoman makro, sedang untuk konteks yang lebih yang spesifik akan dikembalikan pada pengembang dakwah. Merekalah yang secara akademis dan moral bertanggungjawab dalam merumuskan etika yang tepat bagi setiap even dakwah. Pengembangan etika dalwah ini tentunya didasarkan pada hasil penenlitian karena perumusannya sangat ditentukan oleh lingkungan di mana dakwah dilakukan. Dalam bingkai Ilmu Komunikasi efektivitas kegiatan komunikasi sebagiannya terkait erat dengan kredibilitas komunikator. Kredibilitas ini tercermin antara lain dalam kompetensi yang dimiliki komunikator baik penguasaan pesan maupun penguasaan strategi dan teknik penyajian. Apa yang diusung sebagai kredibitas dalam komunikasi sesungguhnya sebagiannya merupakan