1 Model Situasi Pengenangan Introspektif Masa Silam dalam Penceritaan Bermoda Percakapan dan Ironi Dramatik dalam Yang Sudah Hilang oleh Pramoedya Ananta Toer: Prosesi Teks Semiotik Kognitif Thafhan Muwaffaq Universitas Al Azhar Indonesia, Prodi Sastra Inggris thafhan.muwaffaq12@gmail.com ABSTRAK Meskipun Pramoedya Ananta Toer telah dianggap penulis fiksi prominen di lingkup kesusastraan, ternyata salah satu karyanya yang berprestasi (Cerita dari Blora) belum mendapat sorotan telaah sastra. Makalah ini mengambil satu judul cerpen dari antologi itu secara spesifik yaitu Yang sudah Hilang. Pertanyaaan yang dilontarkan di sini adalah bagaimana pembahasaan teks cerpen tersebut membangun representasi adegan referen atau model situasi. Prosesi teks semiotika kognitif digunakan di sini, khususnya prinsip moda kesadaran Chafe, untuk menghasilkan interpretasi yang memperhitungkan objektivitas dalam proses inferensial berbasis pengalaman pemaknaan. Sehubungan dengan hal itu saya berargumen pembahasaan dalam teks menghasilkan model situasi simulasi pengenangan masa lalu terfragmentasi secara introspektif dalam moda percakapan. Masa lalu yang dikenang terfragmentasi dan menghasilkan ironi dramatik. Model situasi tersebut kelihatannya lebih menampilkan elegansi Pram sebagai penulis yang bermain bahasa dan makna, ketimbang fenomena kontekstual yang terlalu lekat dengan subjektivitas. Keywords: prosesi teks semiotika kognitif, model situasi, moda kesadaran, ironi dramatik PENDAHULUAN Selama ini Pramoedya Ananta Toer (1925- 2006), yang akrab dipanggil ‘Pram’, telah dianggap sebagai tokoh sastrawan menonjol karena karya-karyanya yang memberikan perspektif atas sejarah, budaya, dan hubungan sastra dengan politik kuasa di Indonesia. Citra Pram dan karyanya juga dihubung-hubungkan dengan ‘-isme’ tertentu. Yang barusan boleh jadi suatu bahan perbincangan yang lazim mengenai Pram dan karyanya. Namun sangat jarang yang mengupas bagaimana Pram mengolah elemen linguistik (ataupun non- linguistik) dalam membangun naratif yang didasari niat pembuatan-pemaknaan. Terdapat tulisan-tulisan tentang keterhubungan Pram dengan politik Indonesia (GoGwilt, 1995). Suara pertentangan Pram telah ditelaah secara komparatif yang mengambil konteks otoriter dan liberal (GoGwilt, 2003). Dari sini bolehlah seseorang berpendapat bahwa karya Pram memberikan perspektif yang fleksibel terhadap konteks yang berbeda. Di antara banyaknya karya Pram, Cerita dari Blora adalah salah satu antologi cerpen yang terbit pertama kali di tahun 1952. Setahun kemudian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional menamakan Cerita dari Blora sebagai kumpulan cerpen terbaik. Ini merupakan prestasi yang mengesankan. Antologi Cerita dari Blora telah diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa asing. Meski demikian, kelihatannya Cerita dari Blora kurang mendapat perhatian dari kritikus dan pengkaji sastra dibanding tetralogi Buru. Tipikal kajian terhadap karya Pram mengambil tetralogi Buru (yaitu: Bumi