METODE KRITIK MATAN HADITS Hadits selalu menjadi bahan rujukan kedua setelah al-Qur’an dan menempati posisi yang sangat penting dalam kajian keislaman. Mengingat penulisan hadits dilakukan ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat, maka banyak terjadi silang pendapat terhadap keabsahan sebuah hadits. Adanya hadits-hadits palsu (maudhu’), mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadits sebagai uapaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan. Mengingat hadits menjadi rujukan sentral dalam kajian keislaman, tentu hal yang paling tepat ialah memilih dan memilah hadits yang benar-benar aman untuk ‘dikonsumsi’ oleh umat Islam, terlebih hadits yang membahas masalah ibadah atau praktik ajaran Islam secara umum. Karena harus diakui bahwa banyak hadits yang dianggap shahih dan siap dikonsumsi, namun belum tentu shahih dan siap saji. Semua ini dilatari oleh kenyataan bahwa validitas sebuah hadits sangat tergantung pada integritas seorang perawi yang sangat personal. Itulah mengapa verifikasi menjadi sangat penting dilakukan terhadap teks hadits. Mengingat hal itu, tentu butuh alat yang tepat untuk membaca sebuah teks hadits, yakni salah satunya dengan cara metode kritik matan. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai metode kritik matan hadits beserta cakupannya. A. Pengertian dan Sejarah Kritik Matan Hadits Kata kritik (kritik matan) diambil dari bahasa Arab dari kata naqd yang berarti memilih, membedakan, meneliti atau kritik. Sedangkan kata “matan” atau “al-matn” menurut bahasa berarti ma irtafa’a min al-ardhi (tanah yang meninggi). Sedang menurut istilah adalah: مد من الك أليه السننتهي ما ي“Suatu kalimat tempat berakhirya sanad” ا معا نيهتقوم بهي تظ الحديث التلفا ا“Lafadz-lafadz hadits yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu”. Ada juga redaksi yang lebih simpel lagi, yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad (gayah as-sanad). Dari semua pengertian di atas, menunjukkan, bahwa yang dimaksud dengan matan, ialah materi atau lafadz hadits itu sendiri.[1] Dalam definisi lain, matan ialah materi berita, yakni lafadz (teks) haditsnya, berupa perkataan, perbuatan atau taqrir, baik yang disandarkan pada Nabi SAW, sahabat atau tabi’in,