Agama di Jepang Orang-orang Jepang merayakan tahun baru dengan sakral. Di tahun baru mereka berkirim kartu dan saling mengucap “akemasite omedetou gozaimasu kotoshi mo yoroshiku onegaishimasu”, selamat tahun baru dan mohon selalu bantu saya di tahun ini. Tahun baru relatif spesial bagi orang Jepang setelah lelah bekerja selama setahun. Mereka akan berkumpul dengan keluarga dan makan bersama di tahun baru. Salah satu sahabat saya dari Aceh yang menikah dengan seorang perempuan dari wilayah Fukushima berkata, “saya tinggal di Chigasaki area Kanto, wilayah yang juga menaungi Ibu Kota Tokyo, harus mengendarai mobil 4-5 jam ke Fukushima untuk merayakan tahun baru bersama keluarga istri.” Pada siang hari di tahun baru, orang Jepang ramai berziarah mengunjungi kuil-kuil, baik kuil Shinto yang disebut Jinja atau kuil Buddha, Otera. Festival sakral ini popular dengan nama Hatsumode yaitu perayaan tahun baru dengan berkunjung ke kuil. Menurut Ian Reader (1991) dalam Religion in Contemporary Japan, 80 persen orang Jepang terlibat dalam aktivitas kunjungan sakral ini. Mereka akan antusias beramai-ramai mengunjungi kuil untuk memohon doa dan keberuntungan di tahun baru. Jika beragama diartikan sebagai proses mengunjungi tempat ibadah, maka di tahun baru mayoritas orang Jepang adalah orang yang taat beragama. Saya pernah mengunjungi salah satu kuil di areal Asakusa, Tokyo yang bernama kuil Sensoji tepat pada tahun baru 2014. Kuil ini berafiliasi dengan ajaran Buddha. Saya melihat sendiri masyarakat Jepang antusias berdoa di dalam kuil. Tetapi seberapa penting agama bagi orang Jepang? Apakah agama telah mati di Jepang digilas oleh zaman dan kemajuan, ditelan oleh fashion? Masyarakat Jepang kontemporer terlihat sekuler dan menganggap agama yang bersifat kaku dan teoretis tidak ada lagi dan tak penting dalam kehidupan sehari-hari. Ia ditelan oleh kegilaan atas kerja, dan bahkan digantikan budaya pop, konsumerisme dan fashion. Dari penuturan beberapa orang Jepang sendiri dan terlihat di depan mata. Jika anda