155 Poligami menurut Nasr Hamid Abu Zayd: studi atas pengaruh pemikiran tafsir terhadap penetapan hukum Cucu Surahman Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) UPI Bandung E-mail: cucu.surahman@upi.edu DOI: 10.18326/ijtihad.v17i2.155-174 This article examines Nasr Abu Zayd’s (d. 2010) thought of tafsi> r and takes a close look at its implemen- tation when he interprets “polygamy verses”. With library research method and content analysis, I conclude that Abu Zayd uses thematic method of interpretation, by using contextual analysis approach. This method is similar to Fazlur Rahman’s Double Movement method. Abu Zayd’s contextual inter- pretation theory (al-qira> ’ah al-siya> qiyyah) operates in the following steps; first, turn to the meaning (ma’na> ) of the text in its historical and cultural context (ta> ri> khiyyat al-dala> lah); and second, implement its signifi- cance (maghza> ) in contemporary context. Based on his contextual analysis (al-qira> ’ah al-siya> qiyyah) to polygamy verses, Abu Zayd concludes that polygamy is not the final purpose Islamic teaching (shari> ’ah al-Isla> miyah). Polygamy is a temporal decision which is related to the very tight prerequisites. According to him, the significance (maghza> ) of the Qur’an text talking about polygamy is however justice and equality. Otherwise, Abu Zayd says that the implicit (masku> t ‘anhu) final purpose of the revelation of “polygamy related-verses” are monogamy. Tulisan ini akan mengkajii pemikiran tafsir Nasr Abu Zayd (w. 2010) dan melihat penerapan metode tafsirnya ketika ia menjelaskan “ayat-ayat poligami.” Dengan metode riset kepustakaan (library research) dan analisis isi (content analysis), penulis berkesimpulan bahwa Abû Zayd menggunakan metode tafsir tematik, dengan pendekatan (analisis) kontekstual. Metodenya ini mirip dengan metode Double Move- ment Fazlur Rahman. Adapun teori penafsiran kontekstual (al-qira> ’ah al-siya> qiyyah) Abu Zayd adalah sebagai berikut, pertama, kembali pada makna (ma’na> ) dalam konteks historis dan kultural teks ( ta> ri> khiyyat al-dala> lah); dan kedua, menerapkan makna signifikansi (maghza> ) dalam konteks kontemporer. Berdasarkan analisis kontekstual (al-qira> ’ah al-siya> qiyyah)-nya atas “ayat-ayat poligami,” Abu Zayd berkesimpulan bahwa poligami bukanlah tujuan (akhir) dari syariat Islam. Poligami adalah ketetapan temporal yang terkait persyaratan-persyaratan yang sangat ketat. Adapun signifikansi (maghza> ) teks al-Qur’an yang berbicara tentang poligami menurutnya justru adalah keadilan dan kesetaraan. Abu Zayd kemudian Ijtihad, Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Vol. 17, No. 2 (2017), pp. 155-174, doi : 10.18326/ijtihad.v17i2.155-174