Jurnal Salaka Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Hlm. 45—55 45 ASPEK FANTASTIK DALAM FILM GRAVE TORTURE KARYA SUTRADARA JOKO ANWAR Indrawan Dwisetya Suhendi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman, dwisetyaindrawan9@gmail.com kronologi naskah: diterima 3 Agustus 2019, direvisi 12 Agustus 2019, diputuskan 21 Agustus 2019 ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan aspek fantastik yang terdapat dalam film Grave Torture (2012) karya Sutradara Joko Anwar. Teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah teori fantastik Howard Phillips Lovecraft. Rasa takut yang dieksplorasi melalui struktur naratif film dan sinematografi menjadi titik berangkat kajian. Dengan menggunakan metode deskriptif, film Grave Torture akan dideksripsikan berdasarkan aspek struktur naratif dan sinematografisnya sehingga tersaji data yang menunjukkan adanya eksplorasi rasa takut. Dari hasil analisis tersebut, satuan cerita, tokoh, ruang, waktu, kostum dan tata rias, teknik pencahayaan, serta efek suara menunjukkan adanya perlintasan dunia manusia sampai dengan alam supranatural sehingga terjadi ketaksaan ruang yang menimbulkan efek yang menyeramkan. Di samping itu, formula horor kultural-religius ditampilkan untuk lebih mengeksplorasi rasa takut dari penonton dengan budaya sama. Kata kunci: fantastik, naratif, sinematografi, horor. PENDAHULUAN Film horor di Indonesia menunjukkan sebuah dinamika yang menarik untuk dikaji. Film Tengkorak Hidoep (1941) adalah film horor pertama di Indonesia sekaligus yang terakhir di era 40-70-an. Film horor muncul kembali pada tahun 1971 yang berjudul Lisa yang merupakan film horor psikologis. Sejak saat itulah, genre film horor mengalami dinamika dan memberikan kontribusi terhadap peta perkembangan film Indonesia. Pada tahun 1970-an sampai dengan 1980-an, dapat dikatakan sebagai masa kejayaan film horor Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah produksi, penonton, dan hadirnya Suzanna yang memberikan dampak bagi film horor di Indonesia. Periode 1970-an, film horor yang diproduksi mencapai 20 judul film. Sedangkan, tahun 1980-an, jumlah yang diproduksi mencapai 69 judul film horor (Rusdiarti, 2009: 7-8). Dari jumlah penonton pun, penonton film horor Indonesia di rentang tahun tersebut berkisar 250.000 orang. Selain itu, kemunculan aktris Suzanna turut memberikan warna dalam industri film horor Indonesia periode 70-80-an. Film horor di Indonesia mengalami stagnasi bahkan kemunduran pada tahun 90-an. Namun, tampaknya hal tersebut berlaku pula bagi genre film yang lain. Stagnasi industri perfilman di Indonesia dekade 90-an dilatarbelakangi oleh munculnya industri pertelevisian dan peran pemerintah yang sangat represif melalui Lembaga Sensor Film-nya. Film horor Indonesia kontemporer kembali bangkit di era 2000-an yang ditandai dengan munculnya film