Bhada, Lebaran, Hari Raya, Riyaya, dan Idul Fitri Oleh: Zaenal Arifin* Kebanyakan masyarakat Indonesia, suku Jawa, atau orang yang mengerti Bahasa Jawa tidak asing dengan istilah bhada, lebaran, dan riyaya atau hari raya Idul Fitri. Istilah-istilah tersebut sering digunakan untuk menyebutkan hari raya umat Islam tanggal 1 Syawal. Kata lebaran, hari raya, dan Idul Fitri termaktub pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sedangkan bhada dan riyaya ungkapan Bahasa Jawa, tidak dijumpai dalam KBBI. Arti dan penggunaan kata-kata diatas sepertinya sama, namun terdapat beberapa makna filosofis yang menurut saya layak diketahui. Bhada [baca: bhodo], terdapat istilah bhada syawal dan bhada kupat. Bhada dari Bahasa Arab ba’da yang berarti setelah. Peringatan bhada syawal dan kupat dilaksanakan ba’da (setelah) puasa. Bhada syawal setelah Puasa Ramadan sebulan penuh, bhada kupat pasca enam hari puasa sunah di Bulan Syawal (tanggal 2-7 Syawal). Jadi ritual bhada Syawal adalah tanggal 1 Syawal, sedangkan bhada kupat tanggal 8 Syawal. Lebih lanjut, terdapat dua makna filosofis pada kupat, pertama ngaKU lePAT (mengaku bersalah). Bentuk sikap tawadlu’ atau rendah hati, menyatakan dirinya yang paling bersalah. Tidak sombong dan tinggi hati. Manifestasinya berusaha selalu memohon maaf kepada siapapun, lebih khusus kedua orang tua. Makna filosofis kupat yang kedua adalah laKU paPAT. Laku papat=mengerjakan empat pekerjaan yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran berasal dari kata lebar, artinya selesai. Menandakan bahwa waktu melaksanakan ibadah puasa Ramadan telah usai. Lebaran juga dari kata lebar atau luas. Berarti pintu ampunan terbuka selebar-lebarnya. Seluas-luasnya. Rugi jika tidak memanfaatkan momentum tersebut. Luberan dari kata luber/ meluber, melimpah. Merupakan ajakan untuk zakat dan bersedekah. Hartanya meluber dan dirasakan oleh kaum duafa, sebagai wujud kepedulian umat Islam kepada orang lain