Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan Volume 1 No. 2 Mei 2012 Halaman 79-85 79 INTELLIGENZ STRUKTUR TEST DAN STANDARD PROGRESSIVE MATRICES: (DARI KONSEP INTELIGENSI YANG BERBEDA MENGHASILKAN TINGKAT INTELIGENSI YANG SAMA) Retno Kumolohadi * , Miftahun Ni’mah Suseno Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta Email: retno@fpsi.uii.ac.id ABSTRACT This study aimed to correlate between output test from Intelligenz Struktur Test (IST) and Standard Progressive Matrices (SPM). These tests measure intellectual capacity. SPM is intelligence test that has been formed set of pictures A, B,C,D. Subject must continue and complete that picture so that reflected his/her abstract reasoning. SPM is a general test, however IST is a special test but the two test produce IQ score. IST has been formed nine aspect: SE (complete sentences), WA (complete word), AN (similarity of words), GE (the same things that belongs to), RA (numerical reasoning), ZR (line of numeric), MA (choice of shape), WU (design of beam), ME (read of symbol). Subject of this research was university student of department of Psychology Islamic University of Indonesia. They did classical test of two measured test. Coefficient correlation between two test is 0.336; p – 0.000 (p<0.01). This result means there is a very significant correlation between IST and SPM. Kata kunci: IST, SPM, output test PENDAHULUAN Alat tes psikologi digunakan untuk mengungkap aspek psikologis seseorang, oleh karena itu prosedur dan alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan psikologis sangat tergantung pada aspek psikologis dan perilaku yang hendak diperiksa. Berdasarkan aspek psikologis yang diukur alat-alat psikologis dapat dibedakan menjadi beberapa macam antara lain yaitu tes kecerdasan, tes bakat, tes kepribadian dan tes minat. Salah satu alat tes tersebut di atas adalah tes Inteligensi. Tes inteligensi sangat besar manfaatnya dalam dunia pendidikan. Inteligensi sendiri diartikan sebagai kemampuan untuk berpikir secara abstrak, kemampuan untuk belajar, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Cakupan inteligensi ini adalah yang paling lengkap, karena menambahkan aspek penyesuaian terhadap lingkungan (Aiken, 1997). Inteligensi seringkali disalahartikan sama dengan Intelligence Quotient (IQ), padahal IQ adalah skor atau tingkat kemampuan individu pada saat tertentu dan berdasarkan norma usia tertentu (Anastasi dan Urbina, 2006). Tes inteligensi digunakan untuk mengkategorisasikan kemampuan akademik anak sekolah. Tes inteligensi bertindak sebagai penyaringan pendahuluan bagi anak untuk ditempatkan pada kelompok kelas tertentu. Anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental atau bahkan anak- anak yang memiliki kecerdasan tinggi dapat dimasukkan dalam kelompok kelas khusus. Anak terbelakang mental yang biasanya memiliki IQ di bawah 70 menurut skala Weschler dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB), sedangkan anak normal di sekolah reguler biasa dan anak yang memiliki kecerdasan tinggi (jenius/berbakat) dimasukkan dalam kelas unggulan untuk