MODEL PENGUKURAN COSTUMER BASED BRAND EQUITY INDEX PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM (CBEI-IHE) : SEBUAH ARTIKEL KONSEPTUAL Ahmad Juhaidi 1 Syaifuddin 2 1 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Antasari 2 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Antasari *email : ahmadjuhaidi@uin-antasari.ac.id Abstract This article explores the brand equity of Islāmic Higher Education. Conceptually, the brand equity of higher education cannot be compared to the brand equity of other services. In other service products, repeat purchase is element of loyalty. In higher education, customers (students), there are no repeat purchases, because when they become students, they are already bound to buyers continuously through payment of tuition fee until graduation. Therefore, this article presents a model for measuring customer-based brand equity index for Islāmic higher education (CBEI-HI). The model measures brand equity by referring to four components: brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyalty. Keywords : brand awareness; brand association; perceived quality; brand loyalty; CBEI-HI PENDAHULUAN Brand (merek) sebuah perguruan tinggi menggambarkan janji tentang apa yang akan diberikan perguruan tinggi kepada mahasiswa. Sebuah layanan jasa pendidikan yang memiliki nilai tambah menurut pelanggan merupakan refleksi dari brand equity.(Kotler & Keller, 2012, p. 243) Pada sebuah perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI), brand equity merupakan kekuatan yang berdampak bagi lulusan SMA/MA yang merupakan calon pelanggan jasa pendidikan. Brand yang kuat sangat berpengaruh signifikan bagi seseorang yang sedang memilih universitas. Implikasi, tulis Tina Vukasovič (2015), menciptakan dan mengelola brand yang kuat dapat membuat perguruan tinggi memainkan peran yang penting dalam pasar perguruan tinggi. (Vukasovič, 2015, p. 87) Brand yang dipandang oleh pelanggan atau calon pelanggan memiliki seperangkat added value melalui produk barang atau jasanya dibandingkan brand lain merupakan cerminan brand equity (ekuitas merek) produk barang jasa tersebut. Aaker (1991) berpendapat bahwa brand equity merupakan seperangkat aset dari sebuah brand yang menambah nilai yang didapatkan pelanggan.(Bohrer, 2007, p. 3) Seperangkat aset tersebut, menurut Aaker (1991) adalah brand loyalty, brand awareness , brand perceived quality, dan brand association.(Clarke, 2009, p. 9) Riset Gene R. Laczniak (2004) dalam mengukur brand equity Jesuit Higher Education menggunakan tiga aset brand dalam penelitiannya tersebut yaitu brand awareness , brand loyalty, dan perceived quality.(Laczniak, 2004, p. 6) Riset ini mengadopsi pendapat Aakeer (1991) bahwa brand equity didukung oleh, brand awareness,, brand association. brand perceived quality, dan brand loyalty. Brand equity, terutama layanan publik, harus bertolak dari costumer (costumer based), tidak financial based.(Bohrer, 2007, p. 3) Costumer Based Brand Equity perguruan