Pertemuan Ilmiah Tahunan XXXV HATHI, Medan Jenis Makalah: Studi Penelitian 1 INTENSITY-DURATION-FREQUENCY (IDF) DAN HUJAN RENCANA BERDASARKAN DATA HUJAN NON STASIONER PADA KONDISI IKLIM BERUBAH Segel Ginting Peneliti Teknik Hidrologi, Pusat Litbang Sumber Daya Air, Bandung gintingsegel@gmail.com Intisari Perkembangan wilayah dari perdesaan menjadi perkotaan menyebabkan terjadinya perubahan karakteristik data iklim. Perubahan catatan data hujan ektrim, menyebabkan analisis frekuensi data tersebut menjadi tidak valid karena kondisi data tidak stasioner. Oleh karena hal tersebut, maka dilakukan adaptasi dalam analisis intensity-duration-frequency (IDF) dan hujan rencana menggunakan data yang non stasioner. Metode analisis IDF dengan persamaan Bell dan analisis hujan rencana dengan menggunakan distribusi Generalized Extreme Value (GEV) berdasarkan empat skenario model. Model pertama (GEV- 0) menggunakan asumsi parameter lokasi (mean) dan skala (standar deviasi) tetap (stasioner), model kedua (GEV-1) menggunakan parameter lokasi tidak tetap (non-stasioner) sementara parameter skala tetap, model ketiga (GEV-2) menggunakan parameter lokasi dan parameter skala tidak tetap, sedangkan skenario model keempat (GEV-3) sama dengan model GEV-2 namun prediksi parameter lokasi dan skalanya berdasakan data hujan tahunan. Analisis IDF dan hujan rencana berdasarkan parameter non stasioner memberikan hasil peningkatan intensitas hujan dan hujan rencana seiring dengan waktu dan peningkatannya bervariasi tergantung desain resiko yang digunakan. Peningkatan intensitas hujan, terbesar terjadi pada waktu konsenterasi yang pendek. Kata Kunci: intensity-duration-frequency (IDF), hujan rencana, generalized extreme value (GEV), non-stassioner Latar Belakang Peningkatan suhu udara di sekitar dunia telah terjadi secara signifikan pada beberapa dekade terakhir (Pachauri, et.al., 2014), yang mungkin tercermin oleh proses siklus air yang lebih inten dan meningkatnya frekuensi dan besarnya kejadian hujan ekstrim (Wobus et.al., 2014). Suhu yang meningkat akan meningkatkan kapasitas penampungan air atmosfer sekitar 7% setiap kenaikan 1 o C, sehingga secara langsung mempengaruhi curah hujan (Trenberth, 2011). Pemanasan global meningkatkan risiko iklim ekstrem (Emori dan Brown, 2005) termasuk banjir dan kerusakan infrastruktur seperti bendungan, jalan dan selokan dan sistem drainase air hujan (Zhou, 2014). Hujan ekstrem merupakan salah satu fenomena alam yang menyebabkan dampak negatif untuk infrastruktur. Salah satu