110 Proceeding of International Conference on Da’wa and Communication Vol. 1 No. 1, 2019 e-ISSN: 2686-6048 1 st ICON-DAC – September 24-26, 2019 11 DIGITAL MEDIA LITERACY FOR THE BETTER SANTRI: Reconsidering the Power of Internet for the Students of Traditional Pesantren Fazlul Rahman Institut Agama Islam Syarifuddin, Lumajang – East Java fazlulrahman85@gmail.com Abstract; Santri in traditional Pesantren had always been blamed for their incapability to handle the negative impacts of the digital media (particularly the Internet). In consequence, there have been strict rule limited even strongly forbid the usage of Internet for the santri in that kind of Pesantren. This issue, from a larger perspective, is \an issue of the incapability of the digital natives to effectively use digital technologies. At this point, Palfrey and Gasser reminded us that “there are two possible paths before us—one in which we destroy what is great about the Internet and about how young people use it, and one in which we make smart choices and head toward a bright future in a digital age.” Arguing for the potential power of the Internet for developing capacities of the santri (intellectually, religiously, and mentally), this paper is an effort to walk on the second path by proposing a formula of what I call “DMLfS” (Digital Media Literacy for Santri). A SWOT analysis of the formula leads this paper to conclude that the Internet is considerably important for developing santri’s capacities to face the unstoppable-fast changing media technology. The formula of “DMLfS”, this paper argues, is the one of the best answers to the question of how to create a digitally literate santri. Keywords: Santri, pesantren, internet, media literacy, SWOT analysis. Abstrak: Santri di Pesantren tradisional selalu disalahkan atas ketidakmampuan mereka untuk menangani dampak negatif dari media digital (khususnya Internet). Karena itu, ada aturan ketat terbatas bahkan sangat melarang penggunaan Internet untuk santri di Pesantren semacam itu. Masalah ini, dari perspektif yang lebih besar, adalah masalah ketidakmampuan penduduk asli digital untuk secara efektif menggunakan teknologi digital (Oblinger, D. & Oblinger, J, 2012). Pada titik ini, Palfrey dan Gasser (2008) mengingatkan kita bahwa “ada dua jalur yang mungkin ada di hadapan kita — satu di mana kita menghancurkan apa yang hebat tentang Internet dan tentang bagaimana kaum muda menggunakannya, dan satu di mana kita membuat pilihan cerdas dan menuju masa depan yang cerah di era digital. ”Berdebat tentang potensi kekuatan Internet untuk mengembangkan kapasitas para santri (secara intelektual, religius, dan mental), makalah ini merupakan upaya untuk berjalan di jalur kedua dengan mengusulkan formula apa yang saya sebut "DMLfS" (Literasi Media Digital untuk Santri). Analisis SWOT dari formula ini mengarahkan makalah ini untuk menyimpulkan bahwa Internet sangat penting untuk mengembangkan kapasitas santri dalam menghadapi teknologi media yang berubah dengan sangat cepat. Rumus “DMLfS”, makalah ini berpendapat, adalah salah satu jawaban terbaik untuk pertanyaan tentang bagaimana membuat santri yang melek secara digital. Kata Kunci: Santri, pesantren, internet, literasi media, analisis SWOT.