Identifikasi Sebaran Asap Melalui Metode RGB Citra Satelit Himawari-8 (Studi Kasus: Pulau Sumatera dan Kalimantan pada Bulan Agustus dan September 2019) Anendha Destantyo Nugroho, Paulus Agus Winarso anendha.nugroho@bmkg.go.id Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ABSTRAK Pada saat musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan lahan sehingga menyebabkan sebaran asap yang berdampak negatif bagi masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mengetahui potensi sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan sebagai upaya untuk mengurangi risiko dampak buruk dari sebaran asap tersebut. Pada peneltian ini, penulis mengkaji kemampuan satelit Himawari-8 dalam mendeteksi sebaran asap dengan studi kasus wilayah Sumatera dan Kalimantan pada bulan Agustus dan September 2019. Data yang digunakan terdiri dari data satelit Himawari-8 tiap 10 menit dan data titik panas. Pada kajian ini, penulis membandingkan hasil citra RGB false colour (1 kanal visible dan 2 kanal Near Infrared) dengan data sebaran titik panas. Berdasarkan hasil dari penelitian,, citra satelit Himawari- 8 yang diolah menggunakan aplikasi SATAID menunjukkan adanya sebaran asap yang berupa gumpalan berwarna kecoklatan yang menutupi sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan sesuai dengan lokasi sebaran asap dari data titik panas yang tersedia. Kata kunci : kebakaran hutan, identifikasi asap, himawari-8, SATAID 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Kebakaran hutan merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia (Gellert, 1998). Periode bulan terjadinya kebakaran lahan dan hutan di Indonesia biasanya terjadipada musim kemarau, yaitu pada bulan Agustus,September, dan Oktober, maupun pada masaperalihan atau transisi (Bahri 2002; Rianawati, 2005; Syaufina dan Sukmana, 2008). Faktor iklim dan cuaca mempunyai kaitan dengan kejadian kebakaran hutan. Kejadian kebakaran hutan dan lahan menghasilkan penyebaran asap yang merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang dapat mengganggu kesehatan manusia (Yuningsih, 2015). Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di Kalimantan dan Sumatera. Kejadian saat musim kemarau 2019 tersebut kembali memicu bencana asap di banyak daerah. Laporan bencana asap pun bermunculan dari Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat (tirto.id). Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Jim Gafur mengatakan, luas hutan dan lahan yang terbakar di Riau sejak 1 Januari hingga 9 September 2019 sebanyak total 6.464 hektare (kompas, 2019). Kemajuan ilmu pengetahuan alam dan teknologi pada masa sekarang ini mempermudah manusia untuk memantau penyebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan, salah satunya dengan memanfaatkan satelit cuaca. Banyak penelitian untuk memantau penyebaran asap dengan menggunakan satelit yang telah dilakukan antara lain oleh Tjahjaningsih et al. (2005), Xie et al. (2009), dan masih banyak lagi. Namun, hampir semua penelitian tersebut menggunakan pemanfaatan data satelit dengan jenis polar orbital yang bagus pada resolusi spasial dan punya banyak jumlah kanal panjang gelombang namun kurang bagus dalam resolusi temporal.Sedangkan, jenis satelit geostationer orbital misalnya satelit MTSAT bisa menghasilkan citra tiap jam dalam 1 hari namun hanya memiliki jumlah 5 kanal yang menyebabkan satelit MTSAT kurang maksimal dalam mendeteksi asap. Walaupun begitu, Satelit Himawari -8 yang sudah beroperasi pada tahun 2015 sebagai penerus satelit MTSAT telah memiliki 16 kanal dan menghasilkan data tiap 10 menit (JMA, 2015). Oleh karena itu, pada penelitian ini, penulis mencoba mengkaji kemampuan satelit Himawari 8 dalam mendeteksi asap dengan menggunakan teknik RGB false