H.Yulipriyanto /Laju Dekomposisi Pengomposan B-62 LAJU DEKOMPOSISI PENGOMPOSAN SAMPAH DAUN DALAM SISTEM TERTUTUP H. Yulipriyanto Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi filtrat buah nenas, pepaya dan pisang sebagai aktivator dalam mempercepat penghancuran sampah daun yang dikomposkan dalam kontainer berupe ember plastik. 4 kontainer yang masing-masing berukuran tinggi 40 cm, diameter atas 47 cm, diameter dasar 45 cm yang terbuat dari plastic digunakan dalam percobaan. Kesemua container dibagi menjad 4 kelompok yang setiap kelompok. Setiap container dipergunakan untuk mengomposkan berbagai jenis sampah organik dengan 1perlakuan yakni larutan buah nenas, pepaya dan pisang. Larutan buah dibuat dengan cara merendam buah yang telah dikupas dalam air gula 4% selama dua hari. Bahan kompos yang tela h disiapkan dilumuri dengan larutan buah secara merata dan kemudian dimasukkan dalam kontainer sebanyak 6,5 kg setiap kontainernya. Bobot bahan yang dikomposkan ditimbang setiap 2 minggu dan dianalisis sifat-sifat fisik dan kimianya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa seresah organik berubah menjadi kompos setelah 2 bulan dikomposkan dalam container. . Berdasarkan kualitas fisik yang dicirikan oleh Warna, tekstur dan struktur maka secara umum kompos daun, mempunyai sifat-sifat yang baik. Filtrat belum memperlihatkan potensinya sebagai agen pemacu dekomposisi. Namun filtrat nenas dan pepaya dan pisang memiliki potensi menjadi pemerkaya nutrisi pada sampah daun yang dikomposkan Kata kunci: Larutan buah, sampah daun, penghancuran, pengomposan, sistem tertutup, laju dekomposisi PENDAHULUAN Sampah daun merupakan sebagian limbah yang dihasilkan oleh kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Sampah daun ini berasal dari sektor lapangan olah raga yang didominasi oleh rerumputan, sektor halaman yang didominasi oleh daun dari pohon peneduh, dan tanaman-tanam perdu yang berasal dari sektor pertamanan. Berdasarkan hasil penelitian Yulipriyanto (2004), di lingkungan rumah tangga UNY jenis-jenis sampah daun yang dominan diantaranya klengkeng, angsana, filisium, leguminosae yang dihasilkan oleh kebun atau taman dan sampah organik dari rumah makan atau kantin di lingkungan kampus UNY. Setiap hari diperkirakan ada 2 kuintal sampah daun dalam keadaan kering yang berhasil dikumpulkan oleh unit layanan kebersihan. Sedangkan sampah daun dalam keadaan basah biasanya ada kalau sedang ada kegiatan pemangkasan pohon atau merapikan lapangan olah raga. Daun-daun yang jatuh setiap hari di kampus sebenarnya merupakan sumber hara bagi tanah bila telah didekomposisi atau sudah berubah menjadi bahan organik sederhana seperti kompos (Sharma et al (1997). Namun berbagai jenis daun memiliki sifat yang berlainan, antara yang kaku, mudah patah, lentur, kasar, tidak mudah menyerap air. Limbah daun secara umum tersusun atas senyawa lignoselulolitik, lignin, hemiselulose. Perbedaan sifat-sifat tersebut aspek pemudah tidaknya daun bisa terdekomposisi menjadi persoalan tersendiri. Meskipun sebagian masyarakat sering melakukan pengomposan limbah organik, namun jarang yang menggunakan bahan daun dari kebun Dari beberapa pengamatan di lapangan masyarakat acap menggunakan sari buah papaya, nenas dan pisang untuk mempercepat dekomposisi limbah organik, khususnya limbah rumah tangga. Apalagi buah-buahan seperti yang disebutkan jumlahnya sering melimpah. Pengomposan merupakan sistem pengelolaan sampah organik yang hingga kini makin digemari karena selain