RESIKO TERJADINYA KEGEMUKAN PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN DENGAN STATUS GIZI PENDEK DI INDONESIA The Risk of Becoming Overweight among Stunted Children Aged 3-5 Years in Indonesia 'Peneliti pada Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Email: nurhandayani80@yahoo.com Diterima:8 April 2015; Direvisi:20 Juni 2015; Disetujui:25Agustus 2015 ABSTRACT Based on Basic Health Research 2007-2013, stunting and overweight in children have a tendency to increase. Some previous analysis found that there was a relationship between stunting and overweight. This analysis aimed to analyze the relationship between stunting and overweight in children aged 3-5 years in Indonesia. Data were taken from the national survey conducted in 2013. A total of 25.107 children aged 3-5 years from all provinces in Indonesia were become sample in this analysis. The relationship between stunting and the occurrence of overweight in children was analyzed using logistic regression. Analysis showed that the stunted status had become a risk of overweight in children with OR of 2,54 (CI 2,24 to 2,89) after correction by socioeconomic factors, sex of the child, father's education, and nutritional status of the father. The risk of stunted child of becoming overweight make the importance of dietary habit and proper diet for children who are stunted, so they will not become obese in later life. Keywords : Stunted, overweight, children ABSTRAK Kependekan dan kegemukan pada anak mengalami kecenderungan yang selalu meningkat berdasarkan basil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007-2013. Beberapa analisis sebelumnya mengemukakan bahwa ada hubungan antara kependekan dengan terjadinya kegemukan. Analisis ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara kependekan dengan terjadinya kegemukan pada anak usia 3-5 tahun di Indonesia. Data diambil dan data Riset Kesehatan Dasar 2013. Secara keseluruhan, sebanyak 25.107 anak usia 3-5 tahun dari seluruh provinsi di Indonesia yang memiliki data yang lengkap menjadi sampel dalam analisis ini. Uji analisis regresi logistik digunakan untuk menganalisis hubungan antara kependekan pada anak dengan terjadinya kegemukan pada anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa status pendek anak merupakan resiko terjadinya kegemukan pada anak dengan OR 2,54 (2,24-2,89) setelah di koreksi oleh faktor social ekonomi, jenis kelamin anak, pendidikan ayah, dan status gizi ayah. Besarnya resiko anak pendek untuk menjadi gemuk membuat pentingnya pengaturan gizi dan pola makan yang tepat bagi anak yang pendek, agar tidak menjadi gemuk di kemudian harinya. Kata kunci : Pendek, gemuk, anak Nur Handayani Utami' dan Dwi Sisca KP1 PENDAHULUAN Malnutrisi telah diketahui merupakan beban penyakit di dunia. Malnutrisi dimaksudkan untuk istilah kekurangan maupun kelebihan gizi (Ezzati et.al, 2002 & WHO, 2006). Terjadinya kegemukan pada anak juga memiliki kecenderungan yang selalu meningkat. Fenomena ini terjadi juga di negara-negara berkembang serta berpenghasilan rendah dan menengah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa prevalensi obesitas pada anak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah telah mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2015 tingkat kegemukan pada negara-negara ini akan mencapai 11%, mendekati prevalensi di negara-negara berpenghasilan menengah atas (12%) (WHO, 2014). Hasil ini sejalan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) bahwa proporsi balita gemuk adalah sebesar 11,9% di Indonesia (WHO, 2013). 273