Al-lughah: Jurnal Bahasa 1 SENSE AND SENSIBILITY FILM: THE REFLECTION OF SOCIAL AND CULTURE OF ENGLAND SOCIETY (1792-1797) Andriadi Tadris Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu Andriadi.Ambassador1@gmail.com Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejauh mana transformasi film Sense and Sensibility karya Jane Austen merefleksikan kondisi sosial dan budaya masyarakat pada zamannya; dan (2) bagaimana penerimaan masyarakat (penonton) terhadap film ini. Penelitian menggunakan metode kualitatif (strukturalisme) dengan pendekatan sosiologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) gambaran masyarakat Inggris pada tahun 1792-1797 tidak berbeda jauh dengan gambaran yang disuguhan film Sense and Sensibility, yaitu penerapan tradisi primogeniture. Tradidi ini memicu kaum laki-laki dan perempuan bersifat materialistis sehingga kualitas kebaikan yang dimiliki seseorang tidak akan menjadi pertimbangan yang baik pula dalam menemukan pasangan hidup karena kebiasaan masyarakat di sana menganggap uang, kedudukan, dan status sosial sebagai pertimbangan terpenting dalam mencari pasangan hidup; (2) film Sense and Sensibility memperoleh sambutan hangat oleh apresiator dari berbagai negara secara lugas sehingga dapat memberikan gambaran yang memadai mengenai ‘popularitas’ Sense and Sensibility sebagai film. Kata Kunci: film sense and sensibility, cerminan sosial dan budaya, penerimaan masyarakat. Background Definitions of popular culture and pop culture often find different understanding. It is caused by the term “pop” comes from the word “populer”. However, they have differen sense. The word “popular” is related to society, on the other hand, ‘pop’ was appealed from low class (Kayam, 2001, 83). Then, Kaplan (2009: 22) argued that popular art is not pop art. Pop art comes from low class art as the extent of artistic scoope, seeking and finding beauty from things that commonly regarded as bad things, or dig bad things from something that are