1 PENGARUH PUTARAN SPINDLE TERHADAP KEKUATAN TARIK ALUMINIUM DAN TEMBAGA MURNI BUTT JOINT FRICTION STIR WELDING M. Kautsar Harish, Djarot B. Darmadi, Bayu Satriya Wardhana Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Jl. MT Haryono 167, Malang 65145 E-mail: m.kautsar.harish@gmail.com Abstract Friction Stir Welding pertama kali dikenalkan oleh The Welding Institute (TWI) pada tahun 1991 di Inggris. Friction Stir Welding merupakan salah satu dari beberapa welding method yang menggunakan fase solid-state atau dapat juga dibilang sebagai fase intermetallic dari material yang tidak pada lazimnya dipakai dalam menyambungkan logam. Friction stir welding (FSW) mulai banyak dikembangkan karena merupakan metode yang dapat menyambungkan dua buah material yang berbeda jenis. Untuk saat ini metode FSW terus dikembangkan agar nantinya didapatkan hasil pengelasan yang optimal, maka dari itu penelitian ini dibuat dan dikhususkan untuk mencari parameter permesinan yang sesuai untuk menyambungkan material yang berbeda. Penelitian ini menggunakan sambungan butt joint dengan material aluminium dan tembaga murni dengan parameter permesinan yakni kecepatan spindle 1096 rpm; 1452 rpm; 1842 rpm; dan 2257 rpm; 2906 rpm. Dari penelitian didapatkan hasil kekuatan tarik optimal pada kecepatan putaran spindle 1452 rpm dengan kekuatan tarik rata – rata sebesar 61.72 MPa. Keywords : Friction Stir Welding, Dissimillar Metal, butt joint, Kecepatan Putaran Spindle, Aluminium Murni, Tembaga Murni, Kekuatan Tarik. PENDAHULUAN Dalam dunia industri yang semakin maju, tuntutan sebuah proses yang sangat sederhana dan murah namun dapat menciptakan hasil yang maksimal. Proses yang tergolong sederhana dan murah adalah proses pengelasan yang dimana dewasa ini dikembangkan untuk menyambungkan dua buah material yang berbeda. Berdasarkan Welding Science and Technology pengelasan merupakan proses menggabungkan dua material lewat penggabungan lokal dari kombinasi yang tepat antara temperatur, tekanan dan kondisi metalurgi. Dari temperatur dan tekanan, mulai dari pengelasan dengan temperatur tinggi tanpa tekanan sampai tekanan tinggi dengan temperatur yang rendah [2]. Aluminium dan tembaga murni merupakan contoh dari beberapa jenis material yang susah disambungkan atau dilas. Pengelasan Friction Stir Welding pertama kali dikenalkan oleh The Welding Institute (TWI) pada tahun 1991 di Inggris. Friction Stir Welding merupakan salah satu dari beberapa welding method yang menggunakan fase solid-state atau dapat juga dibilang sebagai fase intermetallic dari material yang tidak pada lazimnya dipakai dalam menyambungkan logam. Friction Stir Welding merupakan salah satu jenis pengelasan yang dapat menyambungkan dua buah material yang berbeda. Prinsip pengelasan ini memanfaatkan gesekan dan tekanan yang dapat menciptakan panas. Gesekan dan tekanan terjadi akibat putaran dari tool yang digunakan untuk menciptakan panas, sedangkan putaran tool terjadi akibat putaran dari spindle. Proses pengelasan pada FSW bekerja di bawah suhu melting dari material benda kerja yaitu sekitar 80%-90% dari titik melting-nya. [1] mereka juga berpendapat bahwa suksenya proses FSW pada AA2195 akan menambah pengaplikasian material AA2195 ke berbagai komponen struktur terutama pada industri aerospace karena material AA2195 memiliki massa yang ringan dan kekuatan yang tinggi. Pada proses friction stir welding (FSW), panas dihasilkan dari gesekan antara tool dan benda kerja. Benda kerja akan menerima 95%