1 Komunikasi Kepemimpinan Ridwan Kamil Sebagai Gubernur Jawa Barat Di Era Digital Athifa Nabila Risti, Antar Venus, Hadi Suprapto Arifin Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran E-mail: athifanabilaa@gmail.com PENDAHULUAN Pada era globalisasi ini, perkembangan dan kemajuan teknologi informasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Arus informasi kini sudah tak dapat dibendung. Dengan hadirnya new media atau internet, segala sesuatu dapat berubah hanya dalam waktu sekian detik saja, seperti usaha menggali informasi, persebaran berita, hingga tren yang selalu berganti. Generasi muda Indonesia atau yang biasa disebut generasi milenial beserta teknologi seperti internet yang begitu mendominasi dapat membawa suatu pengaruh besar dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika jumlah pengguna internet di Indonesia kini telah mencapai 63 juta orang, sedangkan 95 persennya ialah masyarakat yang mengakses media sosial. Media sosial saat ini bukan hanya sebagai ajang permainan untuk anak muda, tetapi sudah menjadi media yang penuh kreatifitas. Media sosial juga dimanfaatkan sebagai media promosi untuk berbisnis secara daring yang dapat sangat menguntungkan karena mencakup target pasar yang luas. Selain itu, longgarnya regulasi membuat media sosial menjadi media tempat berekspresi setiap orang dengan bebas seakan tanpa batas. Hal ini berbeda dengan media massa yang dibatasi oleh berbagai etika, regulasi dan kepentingan. Karakteristik media sosial yang cenderung bebas dan cepat tersebut, telah mewarnai perubahan dalam komunikasi kepemimpinan. Di era digital ini, media sosial sangat membantu seorang pemimpin baik pemimpin daerah maupun nasional untuk berinteraksi dengan masyarakat. Era sebelum media sosial interaksi komunikasi pemimpin (termasuk kepala daerah) kerap diwarnai hambatan sekat birokrasi yang kaku dan penuh protokoler. Kini masyarakat dapat berkomunikasi untuk menyampaikan aspirasi kepada pemimpinnya secara langsung melalui media sosial. Dalam konteks ini media sosial telah menjadikan diantara pemimpin dan masyarakat saling merasa memiliki kedekatan. Namun demikian, tidak semua pemimpin di negeri ini memanfaatkan secara optimal berbagai keunggulan media sosial dalam membangun komunikasi efektif dengan masyarakat. Tidak semua pemimpin daerah maupun nasional memegang akun