146 Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB 2015 M EM BANGUN KUALITAS BANGSA DENGAN BUDAYA LITERASI Ane Permatasari Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta anepermatasariyk@yahoo.com ABSTRAK Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan prilaku seseorang. Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan tingkat literasi yang masih rendah padahal sudah 70 tahun sejak Indonesia menjadi negara merdeka. Ada banyak faktor kenapa literasi masyarakat Indonesia memilki persentase yang rendah. Permasalahan ini harus segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bagaimana wacana mengenai ‘melek bacaan’ menjadi perhatian serius dalam semua kalangan masyarakat. Ketika keadaan melek bacaan menjadi sebuah budaya di Indonesia maka bukanlah mustahil untuk menjadi bangsa yang tidak hanya berhasil berkembang tetapi juga sebagai bangsa yang maju. Keyword: literasi, budaya, membangun, kualitas bangsa PENDAHULUAN Begitu gaduh tanah air ketika media menampilkan dua anggota Dewan kita yang terhormat hadir dalam acara kampanye salah seorang politisi debutan baru di Amerika Serikat. Begitu besar kegelisahan yang ditimbulkan, ketika media melangsir kurs rupiah terhadap dollar sudah menembus angka empatbelas ribu. Atau, betapa panjang diskusi dan analisis yang merespon keputusan PAN ganti haluan dengan merapat ke kubu pemerintah. Herannya, tidak ada respon yang berlebihan -- bahkan mungkin malah tidak ada ketika media sempat menampilkan data BPS, yang menyatakan bahwa jumlah rata-rata waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari, apalagi di Kanada yang hanya 60 menit per hari (Republika, 12 September 2015) Pemerintah Indonesia juga tampak adem ayem saja ketika UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10-