Kapal Pinisi: Warisan Berharga Kebudayaan Maritim Sulawasi Selatan Sitti Aisyah binti M.Ikhwan (F041191073) Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Kota Makassar, Sulawesi Selatan Abstrak Sejak dahulu kala, Indonesia terkenal sebagai negara maritim dengan wilayah lautnya yang sangat luas. Sehingga tidak heran jika Indonesia memiliki banyak pelaut-pelaut andal. Salah satu pelaut aslinya berasal dari Suku Bugis Makassar. Masyarakat suku Bugis Makassar telah dikenal sebagai sang bajak laut yang tangguh. Tidak hanya itu, mereka juga sangat ahli dalam membuat kapal. Kapal pinisi adalah nama kapal yang telah mereka ciptakan. Bersama dengan kapal pinisi kebanggaan mereka, masyarakat Bugis Makassar telah mengarungi laut hingga ke wilayah-wilayah di luar Nusantara seperti Malaka, Burma, Vietnam, dan Australia. Kapal yang sudah menaklukkan samudra sejak abad ke 14 ini dulunya digunakan para nelayan kecil untuk menangkap ikan dan sekarang telah menjadi kapal pelayaran yang berukuran besar. Pada artikel ini, akan dibahas mengenai sejarah mitologi dari kapal pinisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki kapal tersebut selama proses pembuatan sebagai salah satu warisan budaya maritim Sulawesi Selatan. Kata Kunci: Kapal Pinisi, La Galigo, Warisan Budaya Maritim, Sulawesi Selatan. A. Latar Belakang Pinisi, phinisi, pinis, pinas adalah nama-nama yang diberikan kepada perahu kebanggaan bangsa Indonesia ini. Kata Pinisi yang sebenarnya merupakan nama layar ini lebih dikenal dan melambangkan pelayaran Nusantara. Kapal Pinisi aslinya berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan tepatnya dari desa Bira kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba.. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; yang digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. Dua tiang layar utama tersebut berdasarkan dua kalimat syahadat dan tujuah buah layar merupakan jumlah dari surah Al-Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar yang dan juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengharungi tujuh samudera besar di dunia. (Widiyanto & Siarudin, 2014)