Prosiding Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan VIII
ISBN : 978-602-72784-3-1
© 2019 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya
Website : www.semnas.fpik.ub.ac.id
E-mail: semnas.fpik@ub.ac.id
Submitted: 2019-10-01
Revised: 2019-10-31
Accepted: 2019-12-01
Online: 2020-01-24
KOMPOSISI JENIS, ASPEK BIOLOGI DAN UKURAN PERTAMA KALI
TERTANGKAP KEPITING ORANGE (SCYLLA OLIVACEA) DI PERAIRAN
KEPULAUAN ARU DAN SEKITARNYA, MALUKU
Andina Ramadhani Putri Pane
a*
dan Api’idatul Hasanah
a
a
Balai Riset Perikanan Laut,
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Cibinong
Komplek Raiser Ikan Hias Jl. Raya Bogor KM 47 Cibinong – Bogor
*E-mail. andina1984@gmail.com
Abstrak
Kepiting orange (Scylla olivacea) merupakan salah satu komoditas penting dan bernilai tinggi yang tertangkap
di Kepulauan Aru disamping jenis Scylla serrata. Peningkatan permintaan ekspor kepiting sejalan dengan
meningkatnya jumlah penangkapan kepiting, sehingga diperlukan kajian ilmiah ukuran kepiting yang layak
tangkap. Informasi ini akan menjadi bahan dalam pengelolaan perikanan kepiting agar populasi tetap terjaga.
Penelitian dilakukan selama 2 (dua) tahun yaitu Maret sampai dengan Desember 2017 dan 2018 dengan metode
survey. Hasil penelitian menunjukkan kepiting orange tertangkap sekitar 15 - 30 % dari hasil tangkapan kepiting
keseluruhan dengan struktur ukuran kepiting orange adalah 95 – 195 mm (2017) dan 90 – 200 mm (2018), dan
ukuran dominan di kisaran 120 – 130 mm. Sifat pertumbuhan kepiting orange adalah allometrik negatif dengan
rasio kelamin tidak seimbang, dominan kepiting jantan dibandingkan betina. Kepiting ini rata-rata ukuran pertama
kali tertangkap pada 133,7 mm (2017) dan 125,5 mm (2018). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan ukuran
kepiting yang tertangkap dan ukuran tersebut masih dibawah PERMEN KKP Nomor 56 Tahun 2016. Upaya yang
dapat dilakukan adalah dengan memberikan informasi dan pemahaman nelayan tentang ukuran kepiting yang boleh
ditangkap agar memberikan kesempatan bagi kepiting untuk berkembang memberikan kontribusi dilingkungan
serta menjaga ekosistem mangrove sebagai habitat hidupnya.
Kata kunci: aspek biologi, ukuran pertama kali tertangkap, kepiting orange, Kepulauan Aru, WPP NRI 718
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Arafura merupakan daerah dengan nilai perikanan yang potensial baik dari perikanan udang, demersal,
pelagis besar, pelagis kecil maupun krustasea. Perairan Arafura mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi
karena didukung oleh sungai-sungai besar yang membawa nutrient dari daratan menuju laut serta
mengalami proses upwelling (Hasanudin, 1998). Bahkan menurut Mulyan et al (2012) Arafura menjadi
pusat perikanan tangkap utama di Indonesia serta menghasilkan banyak sumberdaya baik ikan maupun
udang. Perairan ini sejak dahulu telah menjadi daerah penangkapan ikan yang menjadi tujuan kapal
penangkapan baik dari Jawa, Sumatera maupun Sulawesi. Daerah yang termasuk kedalam perairan Arafura
adalah sepanjang Merauke sampai dengan Mimika, termasuk perairan Kepulauan Aru di Maluku.
Potensi perikanan di Kepulauan Aru terdiri dari udang, perikanan demersal, pelagis besar, pelagis kecil
dan krustasea berupa kepiting dan sebagian kecil rajungan. Produksi perikanan di Kepulauan Aru
mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 86.118,21 Ton menjadi 140.056 Ton pada tahun 2017
(BPS Kepulauan Aru, 2018). Jumlah produksi tersebut meningkat salah satunya disumbang oleh produksi
kepiting, yang pada tahun 2017 sebesar 5.814,83 Ton (BPS Kepulauan Aru, 2019). Hal ini tidak terlepas
karena kepiting merupakan komoditas yang mengandung protein tinggi dan dagingnya mudah dicerna
(Pratiwi, 2011).
Kepiting yang banyak di perairan ini adalah jenis Scylla serrata dan Scylla olivacea. Menurut Le Vay
(2001) kepiting orange Scylla olivacea mempunyai pola penyebaran dominan di Laut Cina, sampai dengan
Samudera Hindia dan Pasifik bagian barat.
Banyak sumberdaya perikanan ekonomis penting yang hidupnya tergantung dengan hutan mangrove
seperti ikan, udang dan kepiting (Sabebegen et al, 2014). Pesisir di Kepulauan Aru adalah daerah dengan
karateristik pantai berlumpur dan vegetasi mangrove Rhizophora sp dan Bruguiera sp (Budhiman &
Hasyim, 2005). Produksi kepiting di Kepulauan Aru didukung oleh lingkungan mangrove yang luasnya
mencapai 111.177 Ha berdasarkan KEPMEN KKP Nomor 64/ KEPMEN – KP/ 2014 tentang Rencana
Pengelolaan Zonasi Suaka Alam Perairan Kepulauan Aru Bagian Tenggara dan Laut Sekitarnya di Propinsi