Randa Anggarista 1 PENAOQ: Jurnal Sastra, Budaya dan Pariwisata, Volume. 1, No. 1, Mei, 2020 Copyright@2020 Fakultas Sastra Universitas Nahdlatul Wathan Mataram Volume 1, Nomor 1, Mei 2020 P-ISSN. 2721-7140 PENAOQ : Jurnal Sastra, Budaya dan Pariwisata Published by Faculty of Letters University of Nahdlatul Wathan Mataram, Indonesia. http://ejournal.unwmataram.ac.id/penq/index Received: 14.04.2020 Accepted: 15.04.2020 Published online: 02.05.2020 Representasi Masyarakat Mbojo Dalam Cerpen La Riru Karya Mas’oed Bakry Randa Anggarista Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu Lombok Tengah randaanggarista@yahoo.co.id Abstract This study used perspective sociology of literary to identify form of local wisdom of Mbojo Tribe in the short story of La Riru by Mas’oed Bakry. This type of research is qualitative research with descriptive analysis method. The data in this research are in the form of text like words, sentences, or discourse in accordance with the formulation of problem. The source of data in this study is short story La Riru by Mas'oed Bakry published by Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa in 1984. The results of study showed that in short story of La Riru by Mas'oed Bakry was identified the local wisdom of the Mbojo Tribe community form of locality like linguistic system with the use of Mbojo language; the locality in the art system in the form of horse racing; and locality in the belief system in the form of use witchcraft and teluh; locality in the livelihood system of life through agriculture, plantations, and animal husbandry. Keywords: Mbojo and locality. 1. Pendahuluan Karya sastra merupakan salah satu bentuk representasi kehidupan yang coba dituangkan oleh para penulis, baik novelis, cerpenis, maupun para penyair. Sebagai proses kreatif, teks sastra tentu saja tidak hadir begitu saja. Oleh sebab itu, Teeuw (1986) mengatakan bahwa setiap karya sastra yang lahir dari tangan seorang sastrawan tidak lahir dengan kekosongan budaya. Hal ini berarti bahwa para sastrawan seringkali mengungkapkan pengalaman yang dialami oleh dirinya sendiri maupun orang lain menjadi salah satu bagian penting untuk membangun teks sastra yang dihasilkannya. Salah satu bentuk teks sastra yaitu cerpen. Cerpen atau disebut sebagai cerita pendek merupakan salah satu jenis karya sastra yang jumlah kosakatanya kurang dari sepuluh ribu kata. Nurgiyantoro dalam (Nurgiyantoro, 2015) menyebut cerpen sebagai salah satu teks fiksi. Salah satu hal yang membedakan antara teks cerpen dan teks novel adalah panjang cerita. Sebuah cerita yang terdiri dari ratusan halaman tentu saja tidak dapat dikatakan sebagai cerpen. Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Edgar Allan Poe via bahwa cerpen adalah satu bentuk karya sastra yang dapat selesai dibaca dengan sekali duduk. Hal ini berarti bahwa proses pembacaan terhadap sebuah teks cerpen hanya membutuhkan setengah hingga satu jam. Cerpen sebagai salah satu bentuk teks sastra juga dapat dikatakan sebagai manifestasi dari sebuah lingkungan. Para cerpenis (penulis cerpen) seringkali berangkat dari fenomena lingkungan hidup yang mengitarinya, salah satunya dari aspek kebudayaan. Kebudayaan berasal dari bahasa latin yaitu colere yang berarti mengerjakan. Kebudayaan sebagai salah satu cara pandang