231 Dessy Wahyuni, Pertarungan Jurnalisma dan Sastra dalam Menguak Kebenaran Paradigma Jurnal Kajian Budaya Vol. 9 No. 3 (2019): 231–255 © Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia PERTARUNGAN JURNALISME DAN SASTRA DALAM MENGUAK KEBENARAN Dessy Wahyuni Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada; dewahyuni77@gmail.com DOI: 10.17510/paradigma.v9i3.325 ABSTRACT The existence of facts in journalism can be manipulated, while the truth settles in literature. Although both types of writing, namely news texts, which contain facts, and literary texts, which contain fction, depart from the same reality, the estuary of the truth in it can be different because it is seen from different perspectives and interests. For these various interests, silencing in journalism often occurs. Facts are circumcised, overhauled, and arranged in such a way as to produce new facts. Meanwhile, in literature, facts are packaged using imagination to disguise the truth as if it did not happen. For this reason, using a functional systemic linguistic approach, the authors uncover various linguistic considerations built by Seno Gumira Ajidarma (SGA) in reducing news in Jakarta Jakarta to fulfll certain interests. Then, the writers also dismantled the formation of meaning behind each text in SGA’s “Saksi Mata”, which contained elements of resistance in literature, by using Derrida’s deconstruction. The result of the study shows that the same facts can be stated in a variety of different and subjective ways. In this case, literary work is an effective tool to voice the truth. KEYWORDS Literature; Journalism; Truth; Fact; Fiction. ABSTRAK Fakta dalam jurnalisme dapat dimanipulasi, sementara kebenaran mengendap abadi dalam sastra. Walaupun kedua jenis tulisan, yaitu teks berita yang mengandung fakta dan teks sastra yang berisi fksi, berangkat dari kenyataan yang sama, muara kebenaran di dalamnya dapat berbeda karena dilihat dari sudut pandang dan kepentingan yang berbeda. Untuk berbagai kepentingan itu, pembungkaman dalam jurnalisme sering terjadi. Fakta disunat, dirombak, dan ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan fakta baru. Sementara itu, dalam sastra, fakta dikemas menggunakan imajinasi dengan tujuan untuk menyamarkan kebenaran, seolah-olah tidak terjadi. Oleh karena itu, dengan menggunakan pendekatan linguistik sistemik fungsional, penulis ini mengungkap berbagai pertimbangan linguistis yang dibangun oleh Seno Gumira Ajidarma dalam menurunkan berita di Jakarta Jakarta agar dapat memenuhi kepentingan tertentu. Kemudian, penulis ini juga membongkar pembentukan makna di balik setiap teks dalam “Saksi Mata” karya SGA yang berisi unsur- unsur perlawanan dalam sastra dengan menggunakan dekonstruksi Derrida. Temuan