Indonesian Forensic and Legal Medicine Journal ISSN 2656-2391 Vol. 1 (1) Pebruari 2019 11 Knowledge, Attitude, and Behavior of Depok Residents regarding Child Sexual Abuse Fitri Ambar Sari 1*) , Denys Putra Alim 2 , Arfiani Ika Kusumawati 2 1 Staf Pengajar pada Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2 Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia *)Corresponding author: E-mail: fitri_ambar@yahoo.com ABSTRAK Kota Depok, Jawa Barat secara demografi berbatasan langsung dengan ibu kota negara Republik Indonesia. Hal ini membuat kondisi kota Depok mengalami tekanan migrasi penduduk yang cukup tinggi sebagai akibat dari meningkatnya jumlah kawasan pemukiman, pendidikan, perdagangan, dan jasa hingga memiliki penduduk yang padat di berbagai kecamatannya. Salah satu dampak negatif dari kondisi ini menjadikan kota Depok menduduki peringkat empat sebagai kota dengan jumlah pelanggaran terhadap anak tertinggi setelah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.Depok saat ini berada di Zona Merah atau dengan kata lain Darurat Kekerasan Anak. Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Depok, tercatat hingga bulan Agustus tahun 2017, dari 167 kasus kekerasan dan pelecehan anak dan perempuan, 75 kasus di antaranya adalah kasus yang menimpa anak-anak. Sedangkan dalam kurun waktu Januari Juni 2018 jumlah kekerasan terhadap anak dan perempuan mencapai 60 kasus, dan dari 60 kasus tersebut, ada 40 kasus kekerasan seksual. Situasi di atas mendorong Tim Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melakukan kampanye anti kekerasan seksual terhadap anak di salah satu kecamatan di kota Depok. Dalam kegiatan kampanye ini, Tim juga melakukan survey untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku warga Depok ABSTRACT Depok City, West Java, demographically located adjacent to capital city of Indonesia. This geographic condition makes Depok city experience high pressure of population migration as the result of increasing number in residential area, higher education level, expanding commerce and service and also from rapid growth of population in every sub-district.One of the negative impact from this condition is Depok City ranked fourth highest in number of offences against children, right after Jakarta, Tangerang, and Bekasi. Therefore; Depok is currently in the “red zone” or in the other words, child abuse emergency. Data from Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Depok till August 2017, there were 167 cases of child and woman abuse from which 75 cases’ victim are children. Moreover, in period of January to June 2018, the number of child and woman abuse has reached 60 cases, and from those 60 cases, there were 40 cases of sexual abuse.The aforementioned situation encouraged Team from Forensic Medicine and Medicolegal, Faculty of Medicine University of Indonesia to do campaign against sexual abuse in children at one of sub-district in Depok City. In this campaign, team also conducted a survey to determine the level of knowledge, attitudes, and behavior of Depok residents regarding child sexual abuse. The survey was conducted in July 2018 using 71 respondents consisted of parents and adolescents.