Sistem Kekerabatan Suku Kaili A. Nalda Rezky Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar ABSTRAK Suku Kailli merupakan suku yang masih mempertahankan solidaritas sosial, suku kaili merupakan suku etnis terbesar yang berada didaerah lembah Palu. Pada saat ini, Suku Kaili sudah ada di berbagai daerah yang ada di Sulawesi Tengah yakni meluputi kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Kolawi, Kabupaten Parigi dan Ampana, dan sebagian berada di daerah berada di Kabupaten Buol dan Kabupaten Toli-Toli, akan tetapi Suku kaili yang berada di Kabupaten Buol dan Toli-Toli tersebut hanya sebagian kecil saja. Sistem kekerabatan yang terdapat di Suku Kaili yakni solidaritas mekanik dan dalam bentuk gotong royong dan kerja sama. Keywords : solidaritas sosial, lembah Palu, solidaritas mekanik,gotong royong, kerja sama I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai macam Suku dan budaya, salah satunya yakni Suku Kaili yang terletak di Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, diseluruh daerah dilembah antara Gunung Gawalise. Gunung Nokilalaki, Kulawi, dan Gunung Raranggonau, Suku Kaili memiliki gaya tersendiri dalam berkomunikasi yang diterapkannya dalam kehidupan sehari hari,tercatat lebih dari dua puluh bahasa yang lazim digunakan, dari mulai dialek Ledo yang paling populer di Suku Kaili juga digunakan di wilayah negeri jiran, Malaysia, ada pula dialek Rai. Layaknya suku lainnya, dalam hal strata sosial Suku Kaili menempatkan keturunan Raja dan Bangsawan pada urutan pertama, berbeda dengan kedudukan masyarakat lainnya yang hanya memiliki tiga sebutan stratifikasi sosial, sedangkan Suku Kaili memiliki empat sebutan stratifikasi. Pertama, madika atau mardika yang merupakan keturunan paling tinggi atau keturunan para raja. Kedua, totua nungata yang merupakan keturunan kiai dan kepala adat. Ketiga, to dea merupakan golongan yang berasal dari masyarakat biasa. Dan yang keempat, golongan budak atau biasa disebut batua. Sama seperti suku-suku lainnya, Suku Kaili juga memiliki upacara adat seperti upacara kematian, kelahiran, dan pernikahan, tetapi ada satu upacara unik yang dimiliki Suku Kaili yang tidak dimiliki oleh Suku lainnya, yakni Upacara khusus remaja. Apabila seorang remaja perempuan diSuku Kaili menjelang dewasa atau usia baliq, mereka wajib melakukan upacara khusus yang disebut Nokeso. Nokeso ialah menggosok gigi sampai rata baik bagian depan, atas maupun bagian bawah bagi seorang anak perempuan menjelang baliq, tujuan dari upacara ini untuk mengantar anak memasuki masa gadis atau dewasa agar dapat berbahagia tanpa gangguan mental dan fisik, serta harapan memasuki pintu haraapan dengan baik, panjang umur, murah rezeki dan dapat pula menjaga dirirnya, tutur katanya serta adat istiadat leluhurnya. Upacara ini juga merupakan upacara peresmian dari orang tua bahwa anak perempuannya telah mengakhiri masa kanak- kanaknya dan telah memasuki fase kedewasaan. II. KAJIAN TEORI Hasil kajian Durkheim menunjukkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan adanya kesadaran kolektif yang kuat (solidaritas organik) atau hubungan kekeluargaan yang kuat, sementara pada masyarakat modern di mana pembagian kerja semakin ruwet, maka yang mengikat manusia yang satu dengan manusia lainnya adalah hubungan kekeluargaan yang kuat, sementara pada masyarakat modern di mana pembagian kerja semakin ruwet, maka yang