Seminar Nasional Bahasa dan Budaya IV 24 Denpasar, 16 - 17 Oktober 2019 TOLERANSI BERAGAMA PADA MASA MATARAM KUNA Andry Hikari Damai Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana andry.hikari.damai@gmail.com ABSTRAK Tumbuhnya dua agama pada masa Kerajaan Mataram Kuna dapat ditinjau dari prasasti Plaosan Lor, Yogyakarta. Prasasti-prasasti pendek yang berasal dari candi Plaosan Lor yang menjelaskan adanya dua dinasti Sanjaya dan Sailendra yang berada ada di kerajaan Mataram Kuna. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Aspek-aspek yang diteliti dalam inkripsi pendek pada Prasasti Plaosan Lor dan Prasasti Kalasan yaitu mengenai perkembangan dua agama yang berbeda pada masa Kerajaan Mataram Kuna. Data yang dikumpulkan berwujud data kualitatif dengan teknik analisis data yaitu analisis kualitatif. Isi dari Prasasti Plaosan Lor dan Prasasti Kalasan menjelaskan mengenai kehidupan dua agama, yaitu Hindu dan Buddha pada saat itu yang hidup berdampingan. Kata kunci: Mataram Kuna, Prasasti Kalasan, Prasasti Plaosan Lor LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara dengan enam agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu. Hal ini berkaitan dengan ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila: ―Ketuhanan Yang Maha Esa‖ serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika‖. Perbedaan agama di Indonesia tidak hanya terjadi pada masa modern saja, namun sudah terjadi sejak masa kerajaan. Sesuai dengan semboyan ―Bhinneka Tunggal Ika‖ dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, kata ―Bhinneka‖ berarti beraneka ragam atau berbeda beda, sedangkan Tunggal‖ yang berarti satu, dan kata ―Ika‖ berarti itu. Secara harfiah dapat diterjemahkan ―Beraneka satu itu― yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakekatnya adalah tetap satu kesatuan. Semboyan digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa, ras, suku bangsa, kepercayaan, dan agama. Salah satu kerajaan dengan hidupnya dua agama yang berbeda yaitu pada masa Mataram Kuna. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Plaosan Lor dan Prasasti Kalasan yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (Mochtar, 2015:118).